HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM
A. Pendahuluan
Pembahasan tantang tujuan pendidikan secara mendasar merupakan bidang kajian filsafat, khususnya filsafat tentang hakikat manusia dan kedudukannya di tengah dunianya dengan segenap harapan dan kebutuhannya, baik yang menyangkut harapan duniawi maupun ukhrawi.
Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan. Hal itu disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya.
Pertama, tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik. Fungsi ini menunjukan pentingnya perumusan dan pembatasan tujuan pendidikan secara jelas. Tanpa tujuan yang jelas, proses pendidikan akan berjalan tidak efektif dan tidak efisien, bahkan tidak menentu dan salah dalam menggunakan metode sehingga tidak mencapai manfaat.
Kedua, tujuan pendidikan mengakhiri usaha pendidikan. Apabila tujuannya telah tercapai, maka berakhir pula usaha tersebut. Usaha yang terhenti sebelum tujuannya tercapai belum dapat disebut berakhir, tetapi hanya mengalami kegagalan yang antara lain disebabkan oleh tidak jelasnya rumusan tujuan pendidikan.
Ketiga, tujuan pendidikan di satu sisi membatasi lingkup suatu usaha pendidikan, tetapi di sisi lain mempengaruhi dinamikanya. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan usaha berproses yang di dalamnya usaha-usaha pokok dan usaha usaha-usaha parsial saling terkait. Tiap-tiap usaha memiliki tujuannya masing-masing. Usaha pokok memiliki tujuan yang lebih tinggi dan lebih umum, sedangkan usaha-usaha parsial memiliki tujuan yang lebih rendah dan lebih spesifik.[1]
Keempat, tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan utuk melaksanakan pendidikan. Hal ini berlaku juga pada setiap perbuatan.
B. Pengertian Pendidikan Islam
Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu al-Tarbiyah ( التربية ), al-Ta’lim ( التعليم ), dan al-Ta’dib ( التاءديب ) dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term al-Tarbiyah sedangkan term al-Ta’lim dan al-Ta’dib jarang sekali digunakan.
Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga terma tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan , baik secara tekstual maupun kontekstual. Untuk itu perlu kami uraikan ketiga term tersebut dengan beberapa argumentasi tersendiri dari beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam.
a) Istilah al-Tarbiyah (education)
Penggunaan istilah al-Tarbiyah berasal dari kata rabb. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukan makna tumbuh, berkembang, memlihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.[2]
Dalam penjelasan lain, kata al-tarbiyah berakar pada tiga kata. Pertama, kata rabâ- yârbu ( ربا, يربو ) yang berarti bertambah dan tumbuh. Kedua, kata rabiya – yarbâ ( ربي, يربى ) yang berarti tumbuh dan berkembang atau bertambah besar. Ketiga, kata rabba – yarubbu ( رب, يرب ) yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memlihara.[3]
Kata rabb sebagimana terdapat dalam Q.S. Al Fatihah/1:2 (alhamdu li Allahi rabb al-‘âlamin) mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata rabb (Tuhan) dan murabbi (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah Pendidik Yang maha Agung bagi seluruh alam semesta.[4]
Uraian di atas secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “Pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk, manusia.
Kata al-Rabb, juga berasal dari kata Tarbiyah dan berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur.[5] Firman Allah yang menggunakan istilah ini adalah seperti pada Q.S. Al-Isra’/17:24 yang artinya:
واخفض لهما جناح الذ ل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربيني صغيرا
(الاسرأ: 24)
“ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.
‘Abdurrahmân al-Nahlâwi seorang pengguna istilah al-tarbiyah, berpendapat bahwa pendidikan berarti:
1. memelihara fitrah anak
2. menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya
3. mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, serta
4. bertahap dalam prosesnya
b) Istilah al-Ta’lim (Teaching)
Salah satu ulama yang menggunakan term ini adalah Abdul Fattah Jalal didasarkan atas firman Allah swt.
كما ارسلنا فيكم رسولا منكم يتلو عليكم ا يا تنا ويزكيكم ويعلمكم الكتاب والحكمة ويعلمكم ما لم تكو نوا تعلمون (البقرة : 152)
Artinya:
“Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.
Kata ويعلمكم الكتاب والحكمة menjelaskan aktivitas Rasulullah saw. Mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Yang dilakukan Rasulullah saw. tersebut bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan tazkiah an-nafs (pensucian diri) dari segala kotoran sehingga memungkinkan menerima hikmah serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.
Jadi al-Ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati. Proses ta’lim tidak hanya berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognisi, namun terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi. Menurut Rasyid Ridha al-ta’lim adalah sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahun pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu[6].
c) Istilah al-Ta’dib (Behaviours)
Menurut al-Attas, istilah ini yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam. Didasarkan atas hadits Nabi Muhammad saw.:
أ دبني ربي فا حسن تأديبي (رواه العسكرى عن علي)
Artinya:
“ Tuhanku telah mendidiku, maka Ia sempurnakan pendidikanku” (H.R. al-‘Askary dari ‘Ali r.a.).
Kata addaba dalam hadits di atas dimaknai al-Attas sebagai mendidik, selanjutnya ia mengemukakan bahwa hadits tersebut bisa dimaknai: “Tuhanku telah membuatku mengenali dan mengakui dengan adab yang dilakukan secara berangsur-angsur ditanamkan-Nya ke dalam diriku, tempat-tempat yang tepat bagi segela sesuatu di dalam penciptaan, sehingga hal itu membimbingku ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-Nya yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian, serta sebagai akibatnya Ia telah membuat pendidikanku yang paling baik.”[7]
Berdasarkan batasan tersebut, maka al-ta’dib berarti pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.
Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term di atas, secara terminologi, para ahli pendidikan Islam telah mencoba memformulasi pengertian Pendidikan Islam, diantaranya:
- al-Syaibaniy; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya. [8]
- Muhammad Fadhil al-jamaly; mendifinisikan pendidikan Islam sebagai upaya mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia. Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi yang lebih sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun perbuatannya.[9]
- Ahmad D. Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama (insan kamil).[10]
- Ahmad Tafsir; mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran Islam.[11]
Dari batasan di atas, dapat disimpulan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai ideologi Islam atau nilai-nilai ajaran Islam.
C. Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam
Pada hakikatnya, pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinou dan berkesinambungan yaitu pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat.
Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.[12]
Telaah di atas, dapat difahami bahwa, tugas pendidikan Islam setidaknya dapat dilihat dari tiga pendekatan; Pendidikan Islam sebagai pengembangan potensi yaitu menemukan dan mengembangkan kemampuan dasar peserta didik sehingga dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari[13] , proses pewarisan budaya yaitu sebagai alat transmisi unsur-unsur pokok budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga identitas umat tetap terpelihara dan terjamin dalam tantangan zaman, serta interaksi antara potensi dan budaya yaitu proses transaksi (memberi dan mengadopsi) antara manusia dan lingkungannya.
Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu:
- Alat untuk memlihara, memperluas, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan, nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan nasional.
- Alat untuk mengadakan perubahan, inovsi, dan perkembangan.
D. Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam
Dasar terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (hadits). Menetapkan al-Qur’an dan hadis sebagai dasar Pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justeru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.
Dalam pendidikan Islam, sunah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: (1) menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya. (2) menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya.[14]
Secara lebih luas, dasar pendidikan Islam menurt Sa’id Ismail Ali secara hierarki terdiri dari 6 macam, yaitu; al-Qur’an, Sunnah, qaul al-shahabat, masalih al-mursalah, ‘urf, dan ijtihad.[15]
Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
1. Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal dan horizontal
2. Sifat-sifat dasar manusia
3. Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban manusia
4. Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam, yaitu: (a) mengandung nilai yang berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di muka bumi. (b) mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan yang baik. (c) Mengandung nilai yang dapat memadukan antara kepentingan kehidupan dunia dan akhirat.[16]
Berdasarkan rumusan di atas, para ahli pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:
Menurut al-Syaibani, tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, pisik, kemauan dan akalnya secara dinamis, sehingga terbentuk pribadi yang utuh.[17]
Muhammad Athiyah al-Abrasy, menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu: (1) membentuk akhlak mulia (2) mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat (3) persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya (4) menumbuhkan semangat ilmiah peserta didik (5) mempersiapkan tenaga profesional yang trampil.[18]
Kongres se-Dunia ke II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad, menyatakan bahwa:
Tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinsi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
E. Kesimpulan
1. Istilah pendidikan yang dipakai dalam konteks masyarakat Islam ada 3 yaitu: al-Tarbiyah, al-Ta’dib dan al-Ta’lim. Namun yang populer atau sering digunakan adalah kata al-Tarbiyah namun hal ini masih merupakan masalah kontroversial diantara ulama muslim dalam menggunakan ke tiga term tersebut.
2. Dari beberapa pendapat ahli pendidikan tentang pengertian Pendidikan Islam maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai ideologi Islam atau nilai-nilai ajaran Islam.
3. Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.
4. Dasar terpenting pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan sunnah Rasul.
5. Dari rumusan-rumusan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk Insan Kamil (muslim sempurna) yang diharapkan akan mampu memadukan fungsi iman, ilmu dan amal secara integral bagi terbinanya kehidupan yang harmonis baik dunia maupun akhirat.
F. Kritik atau Pendapat
1. Seharusnya dalam membahas tujuan pendidikan Islam perlu disertai dengan pembahasan tujuan hidup manusia, karena tujuan hidup manusia merupakan sumber tujuan pendidikan.
2. Seperti pendapat al-Attas bahwa istilah tarbiyah pada intinya maknanya berlaku bagi binatang dan tumbuhan, namun mengapa istilah ini lebih sering digunakan dalam pendidikan Islam, padahal seperti kita ketahui bersama bahwa salah satu konsep dasar pendidikan Islam adalah kemanusian, artinya pendidikan merupakan sesuatu yang khas bagi manusia bukan untuk selainnya.
[1] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Almaarif, 1980), h. 45-46
[2] Ibn Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthubiy, Tafsir al-Qurthuby, juz I, (Kairo: Dar al-Sya’biy, tt), h. 120
[3] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, (Bandung: CV Diponegoro. 1992), h. 31
[4] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 41
[5] Kata al-Rabb adalah bentuk asal (mashdar) yang dipinjam (musta’âr) untuk bentuk pelaku (fa’il) dan hanya digunakan bagi Allah swt. Lihat al-Râghib al-Isfahâni, Mu’jam al-Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, (Bairut: Dâr al-Fikr, tth.), h. 189
[6] Muhammad Rasyid Ridha, Tafsir al-Qur’an al-Hakim; Tafsir al-Manar, (Juz VII, (Beirut: dar al-Fikr, tt.), h. 41
[7] Muhammad Naquib al-Attas, Konsep Pendidikan, h. 63-4
[8] Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, Falsafah Pendidikan Islam, h. 399
[9] Muhammad Fadhil al-Jamaly, Nahwa Tarbiyat Mukminat, (al-Syirkat al-Tunisiyat li al-tauzi’, 1977), h. 3
[10] Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung: Al-Ma’arif, 1989), h. 19
[11] Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 32
[12] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 33-4
[13] Hasan Langgulung, Pendidikan Islam Menghadapai Abad ke-21, (Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988), h. 57
[14] Abdurrahman An-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Silam, h. 47
[15] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, (Jakarta: Pustaka al-Husna, 1989), h. 35
[16] M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam
[17] Hasan Langgulung, Manusia dan Pendidikan, h. 67
[18] Mohammad Athiyah al-Abrasy, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), h. 1-4