Entah mengapa setiap aku mendengar nama orang-orang yang bertitel S.Pd, M.Pd, M.Hum, MM, MA dan sebagainya timbul gejolak semangat dan rasa ingin yang sangat untuk bisa seperti mereka. Secara tiba-tiba ada keinginan untuk belajar, membaca, kuliah pokoknya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Ingin aku habiskan waktu-waktuku untuk membaca buku, ingin rasanya aku berangkat kuliah rajin, dan selesai kuliah aku ingin langsung melanjutkan ke S.2. Itulah yang aku rasakan kalau mendengar atau melihat orang-orang yang berpendidikan seperti ketua PBNU DR. KH. Ahmad Hasyim Muzadi, KH. M. Cholil Nafis, Lc, MA dari lembaga Bahtsul Masail PBNU dan yang lain. Namun itu hanya sekedar semangat yang berkobar saat api itu menyambar dan membakar jiwaku, namun setelah api itu padam, sedikit demi sedikit semangat itu hilang begitu saja.
Kalau aku ingat waktu aku masih sekolah dulu dari SD sampai SMK sepertinya tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk menjadi orang yang besar berpendidikan. Aku juga tidak tahu dulu punya cita-cita apa. Sewaktu sekolah di SMK, aku akui tidak serajin waktu aku masih sekolah di MTs (setingkat SMP), bahkan aku terbilang berprestasi ketika masih di MTs. Namun setelah aku masuk ketingkat SMK menjadi siswa berprestasi sepertinya sudah jauh sekali dari pikiranku. Bukan tanpa sebab aku berubah seperti itu, namun aku tidak akan pernah menyalahkan satu sisi dari penyebab itu karena tidak semua karenanya aku dirugikan, bahkan aku merasa harus bersyukur. Maaf aku tidak bisa menceritakan untuk penyebab ini untuk menghindari salah tafsir dari pembaca.
Sekarang aku kuliah dan sudah hampir selesai S.1 dan semoga aku bisa menyelesaikan kuliaku ini. Memang semangat untuk belajar dan belajar timbul setelah aku mengenal bangku perkuliahan. Namun memang tidak cukup hanya semangat saja untuk bisa mendapatkan ilmu dibutuhkan juga kemauan, pengorbanan, kesabaran dan tahan cobaan. Hidup dimasa sekarang ini memang sangat banyak sekali cobaannya, perkembangan teknologi yang semakin canggih ternyata sedikit demi sedikit mengikis keimananku. Nafsu liar terus memburuku dengan kedok mengikuti zaman dan memanfaatkan perkembangan teknologi, namun ternyata didalamnya kemadhorotan besar yang ada. Secara tidak langsung penyalahgunaan teknologi merapuhkan iman dan akhlaku, imbasnya rasa malas dalam belajar, dan kegersangan hidup yang terus menyeliputi. Sungguh tragis bencana ini melandaku, ingin rasanya aku kembali kemasa-masa dulu, aku ingin memperbaiki hidupku. Aku tidak ingin menjadi sampah masyarakat apalagi agama, aku ingin menjadi orang berguna dan bermanfaat. Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menjadi orang yang benar, dibutuhkan kesabaran dan pengorbanan. Banyak sekali cobaan yang mendera dikala kita tertatih-tatih berjalan menuju jalan yang benar itu. (Bersambung)