<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>LOLIED</title>
	<atom:link href="http://karanggedang.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://karanggedang.wordpress.com</link>
	<description>Long Life Education</description>
	<lastBuildDate>Thu, 25 Aug 2011 05:04:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='karanggedang.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/5a42d149f2498dc53ef3ed1486563644?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>LOLIED</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://karanggedang.wordpress.com/osd.xml" title="LOLIED" />
	<atom:link rel='hub' href='http://karanggedang.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>SYUKUR</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2010/04/05/syukur/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2010/04/05/syukur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 06:17:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[Dimana rasa syukur kita pada Allah SWT. Kita tidak mungkin bisa menghitung nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Dengarkan cerita tadi, sudah berapa banyak orang-orang disekitar kita terkena musibah, ada yang sakit, kecelakaan, meninggal dunia, terkena bencana dll. Namun mengapa kita yang sampai saat ini diberi kesehatan tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Bayangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=137&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><img align="left" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2010/04/040510_0617_syukur11.jpg?w=614"><span style="font-family:Arial Unicode MS;">Dimana rasa syukur kita pada Allah SWT. Kita tidak mungkin bisa menghitung nikmat yang telah Allah berikan pada kita. Dengarkan cerita tadi, sudah berapa banyak orang-orang disekitar kita terkena musibah, ada yang sakit, kecelakaan, meninggal dunia, terkena bencana dll. Namun mengapa kita yang sampai saat ini diberi kesehatan tidak mau bersyukur kepada Allah SWT. Bayangkan bila kita diberi sesuatu oleh seseorang, dan kita tidak mengucapkan terima kasih atau memberi balasan maka bagaimana perasaaan orang tersebut. Kecewa bukan dan mungkin tidak akan pernah memberikan sesuatu lagi pada kita karena rasa kecewanya pada kita. Begitu juga Allah yang  telah memberikan nikmat pada kita, namun kita tidak mau bersyukur pada –Nya, maka tentu saja Allah kecewa pada kita yang  tidak mau bersyukur pada-Nya. Sesuai janjinya dalam al-Qur&#8217;an; Allah akan memberikan azab pada kita yang tidak mau bersyukur pada-Nya. Marilah kita lahirkan rasa syukur kita pada Allah dengan ucapan hamdalah dan bersikap yang baik dengan bertaqwa pada Allah swt.<br />
</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/137/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/137/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=137&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2010/04/05/syukur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2010/04/040510_0617_syukur11.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>MENGAPA KITA BERMADZHAB</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/mengapa-kita-bermadzhab/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/mengapa-kita-bermadzhab/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 16:10:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[inyong banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/mengapa-kita-bermadzhab/</guid>
		<description><![CDATA[Pendahuluan Dalam kehidupan beragama, istilah madzhab sudah lazim kita dengar. Madzhab yang populer atau yang telah diakui oleh kalangan umat Islam ada empat madzhab yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Madzhab Hanbali. Secara bahasa madzhab berarti jalan. Sedangkan pengertian madzhab secara istilah sebagaimana dijelaskan oleh KH. Zainal ‘Abidin Dimyathi dalam kitabnya al-Idza’ah al-Muhimmah, Madzhab adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=121&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<ol>
<li><strong>Pendahuluan</strong></li>
</ol>
<p>Dalam kehidupan beragama, istilah madzhab sudah lazim kita dengar. Madzhab yang populer atau yang telah diakui oleh kalangan umat Islam ada empat madzhab yaitu Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Madzhab Hanbali.</p>
<p>Secara bahasa madzhab berarti jalan. Sedangkan pengertian madzhab secara istilah sebagaimana dijelaskan oleh <em>KH. Zainal ‘Abidin Dimyathi</em> dalam kitabnya <em>al-Idza’ah al-Muhimmah</em>, Madzhab adalah hukum dalam berbagai masalah yang diambil, diyakini dan dipilih oleh para imam mujtahid.</p>
<p>Madzhab tidak akan terbentuk dari hukum yang telah jelas (<em>qath’i</em>) dan disepakati para ulama. Misalnya bahwa shalat itu wajib, zina haram dan semacamnya. Madzhab itu ada dan terbentuk karena terdapat beberapa persoalan yang masih menjadi perselisihan di kalangan ulama. Kemudian hasil pendapat ulama itu disebarluaskan serta diamalkan oleh para pengikutnya. Jadi madzhab itu merupakan hasil <em>elaborasi</em> (penelitian secara mendalam) para ulama untuk mengetahui hukumTuhan yang terdapat dalam al-Qur’an, al-Hadits serta dalil yang lainnya.<span id="more-121"></span></p>
<p>Madzhab itu merupakan sebuah aliran di dalam fiqih yang meliputi :</p>
<p>-            Metodologi ijtihad/istinbath yang dilakukan</p>
<p>-            Landasan logika yang digunakan</p>
<p>-            produk hukum (fiqih) yang dihasilkan</p>
<p>Jadi setiap madzhab yang berbeda itu bukan saja disebabkan karena berbedanya peletak dasar madzhab tersebut, tapi juga dari segi metodologi ijtihad yang digunakan, dasar hukum yang dipakai dan lain-lain. Tapi bisa jadi, meskipun pendekatan dan logika perumusan hukum yang digunakan berbeda tetapi produk hukum (fiqih) yang dihasilkan (untuk masalah-masalah tertentu) sama.</p>
<p>Sebenarnya, madzhab yang boleh diikuti tidak terbatas empat madzhab di atas namun masih ada madzhab yang lain seperti madzhab dua sufyan (<em>Sufyan al-Tsawri dan Sufyan bin ‘Uyainah</em>), <em>Ishaq bin Rahawaih</em>, <em>Imam Dawud al-Zhahiri, dan al-Awzai</em>. Namun yang diakui serta diamalkan oleh golongan Ahl al-Sunah wa al-Jama’ah hanya empat madzhab karena madzhab selain empat tersebut pendapat-pendapatnya tidak dibukukan dengan baik serta jalur periwayatannya tidak valid, sebab tidak ada sanad yang bisa mencegah dari kemungkinan adanya penyisipan dan perubahan. Berbeda dengan dengan empat madzhab yang pendapat-pendapatnya terkodifikaskan dengan baik oleh murid-murid mereka yang kreatif. Akhirnya validitas (kebenaran sumber dan salurannya) dari pendapat-pendapat tersebut tidak diragukan lagi. Di samping itu, madzhab mereka telah teruji ke-shahihan-nya, sebab memiliki metode istinbath (penggalian hukum) yang jelas dan telah tersistematisasi dengan baik, sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.</p>
<ol>
<li><strong>Mengapa Kita Bermadzhab</strong></li>
</ol>
<p>Bermazhab sering disebut <em>bertaklid</em>. Namun bermadzhab bukanlah tingkah laku orang bodoh saja, tetapi merupakan sikap yang wajar dari seorang yang tahu diri. Ahli hadits paling terkenal, Imam Bukhari masih tergolong orang yang bermadzhab Syafi’i. Jadi, ada tingkatan bermadzhab atau bertaqlid. Makin tinggi kemampuan seseorang, makin tinggi tingkat bermadzhabnya sehingga makin longgar keterikatannya, dan mungkin akhirnya berijtihad sendiri. Pertanyaan mengapa kita bermadzhab akan terjawab dengan sendirinya dengan penjelasan taqlid dan Ijtihad dibawah ini.</p>
<p>Secara kodrati, manusia di dunia ini terbagi menjadi dua kelompok besar. Ada yang <em>‘alim</em> (pintar dan cerdas serta ahli dalam bidang tertentu) dan ada <em>‘awam </em>(yang kurang mengerti dan memahami suatu permasalahan). Sudah tentu yang tidak paham butuh bantuan yang pintar. Di dalam literatur fiqih, hal ini dikenal dengan istilah <em>taqlid</em> atau <em>ittiba</em>. Menurut <em>Muhammad Sa’id al-Buthi</em> mendefinisikan <em>taqlid</em> sebagai berikut: <em>“Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengerti dalil yang digunkan atas keshahihan pendapat tersebut, walaupun mengetahui tentang keshahihan hujjah itu sendiri”</em>. <em>Taqlid</em> itu hukumnya haram bagi seorang mujtahid dan wajib bagi orang yang bukan mujtahid<em>. Imam al-Suyuthi</em> dalam <em>Kitab al-Kawkab al-Sathi fi Nazhm Jam’ al-Jawami : 492</em>, mengatakan: <em>“Kemudian, manusia itu ada yang menjadi mujtahid dan ada yang tidak. Bagi yang bukan mujtahid wajib bertaqlid secara mutlaq, baik ia seorang awam ataupun orang alim. Berdasarkan firman Allah SWT (QS.Al-Anbiya’ 7), “Bertanyalah kamu kepada orang yang ahli (dalam bidangnya) jika kalian tidak tahu”</em>. Dengan demikian, <em>taqlid</em> itu tidak hanya terbatas pada orang awam saja. Orang-orang ‘alim yang sudah mengetahui dalilpun masih dalam kategori seorang muqallid. Selama belum sampai pada tingkatan mujtahid, mereka tetap wajib bertaqlid, sebab pengetahuan mereka hanya sebatas dalil yang digunakan , tidak sampai kepada proses, metode dan seluk-beluk dalam menentukan suatu hukum.</p>
<p>Tidak semua <em>taqlid</em> tercela. Yang tidak terpuji hanyalah <em>taqlid buta</em> yang menerima suatu pendapat mentah-mentah, tanpa mengerti dan berusaha untuk mengetahui dalilnya. Sedangkan taqlidnya orang ‘alim yang belum sampai pada tingkatan mujtahid, adalah hal yang terpuji bahkan dianjurkan. Hal itu tentu lebih baik dari pada memaksakan diri untuk berijtihad padahal tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. <em>Taqlid</em> adalah sesuatu yang niscaya bagi setiap orang Islam. Setidak-tidaknya ketika awal melaksanakan bagian dari ajaran Islam. Seperti orang yang bersedekap di dalam shalat, mengangkat tangan ketika takbiratul ihram, dia tentu melakukannya walaupun masih belum meneliti dalilnya, apakah shahih ataukah tidak. Jika dikemudian hari dia tahu argumentasinya, maka berarti dia telah keluar dari <em>taqlid buta</em> yang tercela itu. Namun demikian dia tetap berstatus sebagai seorang <em>muqallid</em>, karena tidak tahu dalil-dalil tersebut secara detail. Setidaknya dalam cara mengambil suatu kesimpulan hukum, ia masih mengikuti metode dari imam mujtahid tertentu.</p>
<p>Kemudian, bagaimana dengan Imam Abu Dawud yang meriwayatkan ucapan Imam Ahmad bin Hanbal; <em>“Janganlah kamu ber-taqlid kepadaku, juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, al-Awza’I, dan al-Tsauri. Tapi galilah dalil-dalil hukum itu sebagaimana yang mereka lakukan.” </em>Coba perhatikan dengan seksama, kepada siapa Imam Ahmad bin Hanbal berbicara? Beliau menyampaikan ucapan itu kepada Abu Dawud pengarang <em>Kitab Sunan Abi Dawud </em>yang memuat lima ribu dua ratus delapan puluh empat hadits lengkap dengan sanadnya. Tidak kepada masyarakat kebanyakan. Sehingga wajar kalau Imam Ahmad mengatakan hal itu kepada Imam Abu Dawud, sebab ia telah memiliki kemampuan untuk berijtihad.</p>
<p>Sebetulnya, proses ijtihad sudah ada sejak Rasulullah SAW masih hidup. Beliau pernah mengutus sahabat Mu’adz bin Jabal RA ke negeri Yaman untuk menyebarkan agama Islam. Ketika sahabat Mu’adz menghadap Rasulullah SAW, beliau menanyakan kepadanya tentang urutan dalam pengambilan keputusan: <em>“Diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal RA bahwa pada saat Rasulullah SAW mengutusnya ke negeri Yaman, beliau bertanya, “Bagaimana cara kamu memutuskan suatu persoalan jika disodorkan kepadamu sebuah masalah?” Dia menjawab, “Saya memutuskan dengan kitab Allah.” Nabi SAW bertanya, “Jika kamu tidak menemukan di dalam Kitabullah?” Mu’adz menjawab, “Maka dengan sunnah Rasulullah SAW.” Nabi SAW bertanya, “Jika kamu tidak menemukan di dalam sunnah?” Dia menjawab, “Saya melakukan ijtihad dan tidak bertindak sewenang-wenang”. Lalu Mu’adz berkata, “Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya dan bersabda, “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan petunjuk kepada utusan Rasulullah dengan apa yang telah diridhai Rasulullah SAW” </em>(Sunan al-Darimi, 168).</p>
<p>Ijtihad mendapat legalitas (pengakuan) dalam Islam, bahkan dianjurkan. Banyak ayat al-Qur’an dan al-Hadits yang menyinggung urgenitas ijtihad. Apapun hasilnya, ijtihad merupakan kegiatan yang terpuji. Dalam sebuah Hadits dijelaskan: <em>“Diriwayatkan dari ‘Amr bin al-Ash, bahwa dia mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seorang hakim memutuskan perkara lalu ia melakukan ijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia memperoleh dua pahala (pahala ijtihad dan pahala kebenarannya). Jika hakim memutuskan suatu perkara lalu berijtihad dan hasilnya salah, maka baginya satu pahala (pahala ijtihadnya).”</em> (Musnad Ahmad bin Hanbal, 17148). Hal ini menunjukan bahwa yang mendapat kewenangan untuk melakukan ijtihad adalah seorang ahli hukum. Dengan kata lain, jadilah ahli hukum terlebih dahulu, baru melakukan pekerjaan ijtihad. Bukan sebaliknya.</p>
<p>Maka sungguh ironis, orang yang hanya bisa memahami al-Qur’an dan Hadits dari terjemahannya, sedangkan dia tidak menguasai bahasa Arab dengan baik, sudah merasa mampu berijtihad. Padahal sebenarnya, tanpa disadari dia sedang bertaqlid buta pada penterjemah buku tersebut, karena tidak bisa mengkoreksi dan mengkritisi hasil terjemahan tersebut, apakah benar atau salah.</p>
<p>Ijtihad yang dimaksud adalah mencurahkan segala upaya (daya pikir) secara maksimal untuk menemukan hukum Tuhan tentang sesuatu yang belum jelas di dalam al-Qur’an dan al-Hadits dengan menggunakan dalil-dalil umum (prinsip-prinsip dasar agama) yang ada dalam al-Qur’an, al-Hadits, Ijma’, Qiyas serta dalil yang lainnya. Sebagaimana dikemukakan oleh Imam Suyuthi: <em>“Ijtihad adalah usaha seorang faqih (ahli fiqh) untuk menghasilkan hukum yang bersifat zhanni (interpretatif).”</em> (Al-Kawakib al-Sathi fi Nazhm Jam’ al-Jawami’, Juz II, hal 479).</p>
<p>Dengan demikian tidak sembarang orang dapat melakukan ijtihad. Ia harus benar-benar ahli dalam ilmu agama. Yakni ahli dan memahami ilmu fiqh, ilmu tafsir, ilmu nahwu, dan lain sebagainya. Oleh sebab itu ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar seseorang dapat melakukan proses ijtihad. Syarat-syarat tersebut adalah:</p>
<ol>
<li>Memiliki kemampuan untuk menggali hukum dari al-Qur’an. Yaitu harus paham ayat-ayat yang berkaitan dengan masalah hukum. Termasuk di dalamnya harus mengetahui <em>Asbab al-Nuzul</em> (latar belakang turunya al-Qur’an), <em>Nasikh-Mansukh</em>, <em>Mujmal-Mubayyan</em> (kalimat yang global dan parsial), <em>al-Am wa al-Khash</em> (Kalimat yang umum dan khusus), <em>Muhkam-Mutasyabih</em> (kalimat yang jelas dan samar), dan sebagainya</li>
<li>Memiliki ilmu yang luas tentang Hadits Nabi Muhammad SAW, terutama yang berkaitan dengan persoalan hukum, seperti <em>Asbab al-Wurud</em> (latar belakang munculnya Hadits) dan <em>Rijal al-Hadits</em> (sejarah para perawi Hadits).</li>
<li>Menguasai persoalan-persoalan yang telah disepakati ulama (Ijma’)</li>
<li>Memahami Qiyas serta dapat menggunakannya dalam usaha menghasilkan sebuah hukum.</li>
<li>Menguasai Bahasa Arab dan gramatiknya secara mendalam, seperti Ilmu Nahwu, Sharaf, Balaghah dan lain sebagainya. Juga harus menguasai kaidah-kaidah Ushul al-Fiqh (cara memproduksi hukum)</li>
<li>Memahamai serta menghayati tujuan utama pemberlakuan hukum Islam. Yakni memahami bahwa tujuan hukum Islam adalah <em>rahmah li al-alamin</em>, yang berpusat pada usaha untuk menjaga perkara <em>dharuriyat</em> (primer atau poko), <em>hajiyyat</em> (sekunder atau pelengkap), dan <em>tahsiniyyat</em> (tersier atau keindahan).</li>
<li>Mempunyai pemahaman serta metodologi yang dapat dibenarkan untuk menghasilkan keputusan hukum.</li>
<li>Mempunyai niat serta akidah yang benar. Denagn kata lain, tujuannya bukan mengejar dan mencari pangkat serta kedudukan duniawi. Namun niatnya murni karena Allah SWT ingin mencari hukum demi kemaslahatan seluruh manusia.</li>
</ol>
<p>Melihat persyaratan yang cukup ketat ini, hamper tidak seorangpun memiliki lima persyaratan itu secara utuh. Masing-masing orang memiliki kelebihan dan kelemahan yang tidak ada pada yang lainnya. Bisa saja seseorang hanya memenuhi sebagian kecil dari persyaratn itu. Tapi orang lain memiliki bahkan menguasai persyaratan itu secara utuh. Oleh karena itu secara singkat mujtahid dibagi menjadi 5 tingkatan:</p>
<ol>
<li>Mujtahid Muthlaq/ Mustaqil</li>
<li>Mujtahid Muntasib</li>
<li>Mujtahid Muqayyad</li>
<li>Mujtahid Madzhab/Fatwa</li>
<li>Mujtahid Murajjih.</li>
</ol>
<p>Mungkin ada orang yang merasa mampu berijtihad sendiri. Tetapi kalau diteliti, seringkali baru mencapai taraf ‘merasa’ mampu, namun belum benar-benar mampu. Oleh karena itu ahlus sunnah wal jamaah mengambil haluan bermadzhab bagi kebanyakan kaum muslimin, yang dapat dilakukan oleh semua orang.</p>
<p>Lalu apakah pintu ijtihad sudah tertutup? Kalau dilihat bahwa ijtihad merupakan kegiatan menggali hukum yang dipetik dari al-Qur’an dan al-Hadits serta dalil lainnya, maka pintu ijtihad masih terbuka. Karena perkembangan zaman melaju dengan begitu cepat, maka diperlukan pendampingan jawaban dari ijtihad para mujtahid. Sehingga pada setiap masa dapat dipastikan ada seseorang mujtahid yang berijtihad untuk menyelesaikan persoalan hukum di tengah masyarakat. Sebagaimana dikatakn oleh Ibn Daqia al-Id: <em>“Setiap masa tidak akan vakum dari seorang mujtahid, kecuali apabila zaman telah kacau atau kiamat telah dekat.”</em> (Majmu’ah Sab’ah Kutub Mufidah, hal 67).</p>
<p>Kalau kita hayati kenyatannya, perbedaan faham mengenai masalah ijtihad dan taklid atau bermadzhab lebih banyak bersifat teoritis saja, sedangkan dalam praktek tidak banyak berbeda. Pihak yang menamakan diri golongan bermadzhab sesungguhnya ingin juga mampu berijtihad. Namun ketahudirian dan melihat kenyataan kemampuan yang dimiliki, ditempuhlah jalan yang lebih selamat dari kekeliruan di bidang agama yang membawa konsekuensi ukhrawi dan hal tersebut dapat dipertanggungjawabkan serta dibenarkan berdasar al-Quran dan al-Hadits. Jalan tersebut adalah sistem bermadzhab.</p>
<ol>
<li><strong>Bagaimana Kita Dalam Bermadzhab</strong></li>
</ol>
<p>Dalam bermadzhab (bertaqlid), umat islam diberi kebebasan untuk memilih madzhab mana saja yang sesuai dengan hati nuraninya. Tetapi kebebasan tersebut bukan tanpa kendali. Ada satu syarat, bahwa kebebasan ini jangan sampai terperangkap dalam <em>talfiq</em>, karena mayoritas ulama tidak membenarkan adanya <em>talfiq</em> ini. Kemudian apa yang dimaksud dengan <em>talfiq</em> itu?, dan apa pula tujuan dari pelarangan <em>talfiq</em> ini?</p>
<p>Secara bahasa, <em>talfiq</em> berarti melipat/. Sedangkan yang dimaksud dengan <em>talfiq</em> secara syar’i ialah mencampur adukan pendapat ulama dengan pendapat ulama yang lain, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang membenarkan perbuatan yang dilakukan tersebut. <em>Muhammad Amin al-Kurdi</em> mengatakan dalam kitab <em>Tanwir al-Qulub, 397</em>; <em>“(Syarat kelima dari taqlid) adalah tidak talfiq, yaitu tidak mencampur adukan antara dua pendapat dalam satu qadhiyah (masalah), baik sejak awal, pertengahan dan seterusnya, yang nantinya, dari dua pendapat itu akan menimbulkan satu amaliyah yang tak pernah dikatakan oleh orangorang yang berpendapat tersebut.”</em></p>
<p>Jelasnya <em>talfiq</em> adalah melakukan sesuatu perbuatan atas dasar hukum yang merupakan gabungan dua madzhab atau lebih. Contohnya sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Seorang berwudhu menurut madzhab Imam Syafi’i dengan mengusap sebagian (kurang dari seperempat) kepala. Kemudian dia menyentuh kulit wanita <em>ajnabiyah</em> (bukan muhrimnya), dan langsung shalat dengan mengikuti madzhab Imam Hanafi yang mengatakan bahwa menyentuh wanita <em>ajnabiyah</em> tidak membatalkan wudhu. Perbuatan ini disebut <em>talfiq</em>, karena menggabungkan pendapatnya Imam Syafi’i dan Hanafi dalam masalah wudhu. Yang pada akhirnya, kedua imam tersebut sama-sama tidak mengakui bahwa gabungan itu merupakan pendapatnya. Sebab, Imam Syafi’i membatalkan wudhu seorang yang menyentuh kulit lain jenis. Sementara Imam Abu Hanifah tidak mengesahkan wudhu seseorang yang hanya mengusap sebagian kepala.</li>
<li>Seseorang berwudhu dengan mengusap sebagian kepala, atau tidak menggosok anggota wudhu karena ikut madzhab Imam Syafi’i. Lalu dia menyentuh anjing, karena ikut madzhab Imam Malik yang mengatakan bahwa anjing adalah suci. Ketika dia shalat, maka kedua imam tersebut tentu sama-sama akan membatalkannnya. Sebab, menurut Imam Malik wudhu itu harus dengan mengusap seluruh kepala dan juga dengan menggosok anggota wudhu. Wudhu ala Imam Syafi’i, meunurut Imam Malik adalah tidak sah. Demikian juga anjing menurut Imam Syafi’i termasuk najis mughaladzah (najis yang berat). Ketika menyentuh anjing lalu shalat, maka shalatnya tidak sah. Sebab kedua imam tersebut tidak mengangap sah shalat yang dilakukan.</li>
</ol>
<p><em>Talfiq</em> semacam ini dilarang dalam agama. Sebagaimana disebutkan dalam kitab I’anah al-Thalibin: <em>“Talfiq dalam satu masalah itu dilarang, seperti ikut pada Imam Malik dalam sucnya anjing dan ikut pada Imam Syafi’i dalam bolehnya mengusap sebagian kepala untuk mengerjakan satu shalat.”</em></p>
<p>Sedangkan tujuan pelarangan itu adalah agar tidak <em>Tatabbu al-Rukhsah</em> (mencari yang gampang-gampang), tidak memanjakan umat Islam untuk mengambil yang ringan-ringan . Sehingga tidak akan timbul <em>tala’ub</em> (main-main) di dalam hukum agama.</p>
<p>Kemudian yang perlu dihindari dalam bermadzhab adalah sikap fanatisme terhadap suatu madzhab tertentu serta memonopoli kebenaran, karena sikap ini dapat menimbulkan perpecahan dan akhirnya menjadi kelemahan umat Islam. Sebab tiap orang kecuali nabi memiliki <em>potensi untuk salah walaupun ia seorang mujtahid. Karenanya Rasul bersabda: Barang siapa berijtihad dan ia benar maka baginya dua pahala dan barang siapa berijtihad dan ternyata salah maka baginya satu pahala.”</em></p>
<ol>
<li><strong>Kesimpulan</strong></li>
</ol>
<p>Dari uraian makalah di atas dapat kita simpulkan sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>Madzhab merupakan sebuah ‘jalan’ yang disediakan oleh para mujtahid sebab adanya perbedaan pendapat di antara mereka.</li>
<li>Bagi orang awam wajib hukumnya bermadzhab karena kita tidak mengetahui samudra syari’ah yang sangat luas dari seluruh madzhab dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rosul maka kita tidak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa-fatwa para imam ahli hadits zaman dahulu.</li>
<li>Bagi orang awam bermazhab hanyalah semata untuk memudahkan mereka mengikuti ajaran agama, sebab tidak mungkin mereka mencari sendiri didalam Al Qur’an dan hadits, bisa dibayangkan bagaiman sulitnya orang awam mempelajari semua ajaran agamanya melalui Al Qur’an dan hadits.Sebab kita ini masih buta akan ilmu-ilmu yang harus di miliki oleh seorang mujtahid</li>
<li>Umat Islam tidak harus terikat pada satu madzhab tertentu, tetapi mereka diberi kebebasan untuk memilih madzhab.</li>
<li>Yang berhak diikuti hanya terbatas pada empat madzhab saja, yakni madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali.</li>
<li>Dalam bermadzhab harus menghindari Talfiq (mencampur adukan madzhab) dengan tujuan untuk menghindari main-main dalam beribadah dan sikap fanatisme yang dapat menimbulkan perpecahan umat Islam.</li>
<li>Ijtihad merupakan usaha untuk mencari hukum Allah SWT demi kemaslahatan manusia. Namun tidak semua orang dapat melakukannya. Ada syarat-syarat yang harus dipenuhi agar seseorang dapat melakukan proses ijtihad.</li>
<li>Hingga saat ini pintu ijtihad masih terbuka. Sampai sekarangpun masih terbuka peluang muculnya para imam mujtahid. Namun yang bisa memasuki pintu tersebut tentulah orang-orang yang memiliki kualitas pribadi dan keilmuan yang memenui syarat-syarat di atas.</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Abdusshomad, KH. Muhyidin, <em>Fiqh Tradisionalis “Jawaban Pelbagai Persoalan Keagamaan Sehari-hari”,</em> Surabaya: Khalista 2004.</p>
<p>Mustofa, KH. Bisri, <em>Risalah Ijtihad dan Taqlid </em>(Semarang: Menara Kudus TT)</p>
<p>Abbas, KH. Sirajudin, <em>40 Masalah Agama, </em>(Jakarta: Pustaka Tarbiyah, 2000)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/121/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/121/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=121&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/mengapa-kita-bermadzhab/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cerita Kampus</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/kampus-kita/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/kampus-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 Jan 2010 15:27:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Heh mas, kenapa kamu merenung terus, ada apa? Tanyaku pada si Fadil. Eh kamu pram, engga ko saya ngga lagi ngelamun”, katanya dengan sedikit kaget melihat diriku tiba-tiba di dekatnya. Ah&#8217; jangan bohong, cerita dong ada apa sama aku, barangkali aku bisa bantu. “Trims mas, ngga kok aku ngga ada apa-apa, aku cuman lagi mikir [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=114&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Heh mas, kenapa kamu merenung terus, ada apa? Tanyaku pada si Fadil.<br />
Eh kamu pram, engga ko saya ngga lagi ngelamun”, katanya dengan sedikit kaget melihat diriku tiba-tiba di dekatnya.<br />
Ah&#8217; jangan bohong, cerita dong ada apa sama aku, barangkali aku bisa bantu.<br />
“Trims mas, ngga kok aku ngga ada apa-apa, aku cuman lagi mikir kira-kira kapan yah aku bisa selesai S1, terus setelah itu saya mau kerja dimana, apa kira-kira ijazahku laku buat cari pekerjaan di zaman seperti ini.<br />
Wah kamu ini Dil&#8217; ya jelas saja kita sekarang sudah semester 7 berarti kan tinggal satu semester lagi kita selesai, masalah cari kerja jangan dipikirkan dulu, apa kamu khawatir ijazah STAINU kita ini tidak laku dipasaran. Jangan salah dil, walaupun kampus kita bukan kampus bonavit dan bukan di kota besar kayak Jogja atau Jakarta tapi kampus kita ini sudah di Akreditasi BAN dan kamu tahu sendiri kan hasilnya A, berarti kampus kita sudah sesuai dengan standar nasional lho dil&#8217;.<br />
Bukan begitu mas pram, kamu kan tahu sendiri pandangan masyarakat tentang kampus kita ini,&#8230;<br />
Memangnya kenapa dil ?<br />
Ya banyak yang bilang kampus kita ini belum diakui, kualitas dosen dan lulusannya rendah dan sebagainya-sebaginya, kata Fadil sambil menatap dosen Bahasa Arab-Ali Mu&#8217;in, Lc yang baru lewat dengan mobil Tordnya.<br />
Eh dil, memang kamu merasa begitu.., ? itu kan dulu sekarang sudah nggak kayak gitu, coba kamu lihat tadi pak Ali Mu&#8217;in, Lc apa kamu anggap dia itu dosen bukan berkualitas ? Dia itu asli lulusan Al-Azhar lho dil, lah kamu tahu sendiri kan, nggak perlu saya jelaskan. Ya memang sih nggak seluruh dosen di kampus kita ini berkualitas, terutama kalau kita lihat dari background pendidikannya, masih banyak yang baru S1 dan kadang mismach dengan mata kuliah yang diajarkannya. Tetapi percayalah pihak kampus sekarang lagi meningkatkan kualitas para dosen di kampus kita ini. Kaya sekarang kan banyak dosen kita yang masih S1 sedang melanjutkan S2 di luar, bahkan ada yang baru selesai S3 kayak Dosen kita siapa itu yang ngajar mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam yang asalnya Kutoarjo&#8230;?tanyaku agak lupa.<br />
Oh pak Slamet, memangnya dia sudah selesai S3 nya ?, wah berarti dia Doktor yah !‘ DR. Slamet..,Hebat&#8230;! Fadil bangga sambil senyum-senyum.<br />
Tapi kalau yang masalah mahasiswa atau lulusannya kurang berkualitas, kayaknya ada benernya juga tuh&#8230;. <em>&lt;bersambung&gt;</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=114&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/23/kampus-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>I THINK</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/05/diary/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/05/diary/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Jan 2010 14:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[inyong banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Entah mengapa setiap aku mendengar nama orang-orang yang bertitel S.Pd, M.Pd, M.Hum, MM, MA dan sebagainya timbul gejolak semangat dan rasa ingin yang sangat untuk bisa seperti mereka. Secara tiba-tiba ada keinginan untuk belajar, membaca, kuliah pokoknya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Ingin aku habiskan waktu-waktuku untuk membaca buku, ingin rasanya aku berangkat kuliah rajin, dan selesai [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=103&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Entah mengapa setiap aku mendengar nama orang-orang yang bertitel S.Pd, M.Pd, M.Hum, MM, MA dan sebagainya timbul gejolak semangat dan rasa ingin yang sangat untuk bisa seperti mereka. Secara tiba-tiba ada keinginan untuk belajar, membaca, kuliah pokoknya mencari ilmu sebanyak-banyaknya. Ingin aku habiskan waktu-waktuku untuk membaca buku, ingin rasanya aku berangkat kuliah rajin, dan selesai kuliah aku ingin langsung melanjutkan ke S.2. Itulah yang aku rasakan kalau mendengar atau melihat orang-orang yang berpendidikan seperti ketua PBNU DR. KH. Ahmad Hasyim Muzadi, KH. M. Cholil Nafis, Lc, MA dari lembaga Bahtsul Masail PBNU dan yang lain. Namun itu hanya sekedar semangat yang berkobar saat api itu menyambar dan membakar jiwaku, namun setelah api itu padam, sedikit demi sedikit semangat itu hilang begitu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Kalau aku ingat waktu aku masih sekolah dulu dari SD sampai SMK sepertinya tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk menjadi orang yang besar berpendidikan. Aku juga tidak tahu dulu punya cita-cita apa. Sewaktu sekolah di SMK, aku akui tidak serajin waktu aku masih sekolah di MTs (setingkat SMP), bahkan aku terbilang berprestasi ketika masih di MTs. Namun setelah aku masuk ketingkat SMK menjadi siswa berprestasi sepertinya sudah jauh sekali dari pikiranku. Bukan tanpa sebab aku berubah seperti itu, namun aku tidak akan pernah menyalahkan satu sisi dari penyebab itu karena tidak semua karenanya aku dirugikan, bahkan aku merasa harus bersyukur. Maaf aku tidak bisa menceritakan untuk penyebab ini untuk menghindari salah tafsir dari pembaca.</p>
<p style="text-align:justify;">Sekarang aku kuliah dan sudah hampir selesai S.1 dan semoga aku bisa menyelesaikan kuliaku ini. Memang semangat untuk belajar dan belajar timbul setelah aku mengenal bangku perkuliahan. Namun memang tidak cukup hanya semangat saja untuk bisa mendapatkan ilmu dibutuhkan juga kemauan, pengorbanan, kesabaran dan tahan cobaan. Hidup dimasa sekarang ini memang sangat banyak sekali cobaannya, perkembangan teknologi yang semakin canggih ternyata sedikit demi sedikit mengikis keimananku. Nafsu liar terus memburuku dengan kedok mengikuti zaman dan memanfaatkan perkembangan teknologi, namun ternyata didalamnya kemadhorotan besar yang ada. Secara tidak langsung penyalahgunaan teknologi merapuhkan iman dan akhlaku, imbasnya rasa malas dalam belajar, dan kegersangan hidup yang terus menyeliputi. Sungguh tragis bencana ini melandaku, ingin rasanya aku kembali kemasa-masa dulu, aku ingin memperbaiki hidupku. Aku tidak ingin menjadi sampah masyarakat apalagi agama, aku ingin menjadi orang berguna dan bermanfaat. Tidak semudah membalikan telapak tangan untuk menjadi orang yang benar, dibutuhkan kesabaran dan pengorbanan. Banyak sekali cobaan yang mendera dikala kita tertatih-tatih berjalan menuju jalan yang benar itu. <em>(Bersambung)</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=103&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2010/01/05/diary/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Diri Kita Di Dalam Perut Ibu</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/11/04/diri-kita-di-dalam-perut-ibu/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/11/04/diri-kita-di-dalam-perut-ibu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Nov 2009 07:34:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[inyong banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Para sahabat yang aku cintai, kali ini kita akan memundurkan waktu sejenak dan melihat apa yang terjadi pada diri kita tatkala kita berada di dalam rahim ibunda kita. Sungguh begitu Agungnya Sang Ilahi membentuk, menjaga dan memelihara diri kita. Kasih Sayang-Nya meliputi seluruh alam semesta. Sungguh Engkau-lah Tuhan kami Yang Maha Pengasih. Sahabatku, foto-foto di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=76&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Para sahabat yang aku cintai, kali ini kita akan memundurkan waktu sejenak dan melihat apa yang terjadi pada diri kita tatkala kita berada di dalam rahim ibunda kita. Sungguh begitu Agungnya Sang Ilahi membentuk, menjaga dan memelihara diri kita. Kasih Sayang-Nya meliputi seluruh alam semesta. Sungguh Engkau-lah Tuhan kami Yang Maha Pengasih.</p>
<p style="text-align:justify;">Sahabatku, foto-foto di bawah ini memperlihatkan proses apa saja yang terjadi pada sang janin hingga pada akhirnya ia menjadi seorang manusia. Prosesnya dijelaskan secara bertahap dimulai dari minggu ke 8. Mari Sahabatku kita mulai perjalanan ini.<span id="more-76"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya.</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS 3:6)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-79" title="2s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/2s.jpg?w=300&#038;h=216" alt="2s" width="300" height="216" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Dimulai pada minggu ke 4-8:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Terjadi pembentukan awal embrio (manusia dini) yang sudah memiliki sistim vaskuler (peredaran darah). Jantung janin mulai berdetak, dan semua organ tubuh lainnya mulai terbentuk. Muncul tulang-tulang wajah, mata, jari kaki, dan tangan.Pada fase ini pun sudah terbentuk kantung ketuban yang terdiri dari dua selaput tipis. Selaput ini berisi air ketuban tempat bayi terapung di dalam rahim. Air ketuban akan menjaga bayi dari cedera akibat benturan dari luar selama masa kehamilan. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/1.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a> <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/2.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-80" title="3s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/3s.jpg?w=300&#038;h=216" alt="3s" width="300" height="216" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 8-12:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Organ-organ tubuh utama janin telah terbentuk. Bentuk kepalanya pun kini lebih besar dibandingkan dengan badannya, sehingga dapat menampung otak yang terus berkembang dengan pesat. Ia juga telah memiliki dagu, hidung, dan kelopak mata yang jelas. Di dalam rahim, janin mulai dapat melakukan aktifitas seperti menendang dengan lembut. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/3.jpg">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 12-16:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Paru-parunya janin mulai berkembang dan detak jantungnya dapat didengar melalui alat ultrasonografi (USG). Wajahnya mulai dapat membentuk ekspresi tertentu, dan di matanya mulai tumbuh alis dan bulu mata. Kini ia dapat memutar kepalanya dan membuka mulut. Rambutnya mulai tumbuh kasar dan berwarna. Bahkan kakinya pun sudah tumbuh lebih panjang dari tangannya.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-81" title="4s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/4s.jpg?w=300&#038;h=217" alt="4s" width="300" height="217" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 16-20:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Hidung dan telinga tampak jelas, kulit merah, rambut mulai tumbuh, dan semua bagian sudah terbentuk lengkap. Pembuluh darah terlihat dengan jelas pada kulit janin yang tipis. Tubuhnya ditutupi rambut halus yang disebut lanugo. Si kecil kini mulai lebih teratur dan terkoordinasi. Ia bisa mengisap jempol dan bereaksi terhadap suara ibunya. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/4.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 20-24:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pada saat ini, alat kelaminnya mulai terbentuk, cuping hidungnya terbuka, dan ia mulai melakukan gerakan pernapasan. Pusat-pusat tulangnya pun mulai mengeras. Selain itu, kini ia mulai memiliki waktu-waktu tertentu untuk tidur.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-82" title="5s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/5s.jpg?w=300&#038;h=217" alt="5s" width="300" height="217" /></p>
<p style="text-align:justify;">Berkat teknologi <a href="http://www.innovations-report.de/html/berichte/medizin_gesundheit/bericht-30614.html" target="_blank">3D Ecography</a>, anda bisa melihat sang janin dengan jelas, bahkan ekspresi wajahnya. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/5.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-83" title="6s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/6s.jpg?w=300&#038;h=216" alt="6s" width="300" height="216" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 24-28:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Di bawah kulit, lemak sudah mulai menumpuk. Di kulit kepala rambut mulai bertumbuhan, kelopak matanya membuka, dan otaknya mulai aktif. Ia dapat mendengar sekarang, baik suara dari dalam maupun dari luar (lingkungan). Ia dapat mengenali suara ibunya dan detak jantungnya bertambah cepat jika ibunya berbicara. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/6.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-84" title="7s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/7s.jpg?w=300&#038;h=216" alt="7s" width="300" height="216" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 28-32:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Walaupun gerakannya sudah mulai terbatas karena beratnya yang semakin bertambah, namun matanya sudah mulai bisa berkedip akibat melihat cahaya melalui dinding perut ibunya. Kepalanya sudah mengarah ke bawah. Paru-parunya belum sempurna, namun jika saat ini ia terlahir ke dunia, si kecil kemungkinan besar telah dapat bertahan hidup. Si kecil kini sudah terbentuk dengan sempurna. <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/7new.jpg" target="_blank">[Full  Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 36:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sang bayi kerap berlatih bernafas, mengisap, dan menelan. Rambut-rambut halus di sekujur tubuhnya telah menghilang dan badannya menjadi lebih bulat. Bayi yang dikandung oleh sebagaian wanita yang hamil untuk pertama kalinya akan mengalami penurunan, yaitu turunnya kepala ke rongga panggul (bayi sudah “turun”).</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 38:</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kepalanya telah berada pada rongga panggul, siap untuk dilahirkan. Hal tersebut menunjukkan bahwa waktu persalinan sudah dekat. Kini, sang bayi seolah-olah “mempersiapkan diri” bagi kelahirannya ke dunia.</p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><img class="aligncenter size-medium wp-image-85" title="10s" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/10s.jpg?w=300&#038;h=236" alt="10s" width="300" height="236" /></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pada minggu ke 40 [9 Bulan]:</strong> <a href="http://surrender2god.files.wordpress.com/2008/03/10.jpg" target="_blank">[Full Screen]</a></p>
<p style="text-align:justify;">Apa yang dulunya hanyalah sebuah sel, sekarang telah menjadi manusia. Dalam beberapa hari, plasenta akan mengambil alih dan memberi sinyal bahwa bayi telah siap untuk dilahirkan. Sang bayi masih tidur dengan tenang di dalam rahim ibunya. Ia tidak mengetahui bahwa sesaat lagi ia akan meninggalkan “rumah”nya untuk melewati proses terbesar dalam kehidupannya yaitu KELAHIRAN! Walaupun proses ini menyakitkan bagi sang ibu dan sang bayi tetapi melalui hal inilah…</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>KEAJAIBAN KEHIDUPAN TERJADI!</strong></p>
<p style="text-align:justify;">***</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS 1:2)</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>*****</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Semoga bermanfaat.</p>
<p style="text-align:justify;">*********</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/76/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/76/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=76&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/11/04/diri-kita-di-dalam-perut-ibu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/2s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">2s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/3s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">3s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/4s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">4s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/5s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">5s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/6s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">6s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/7s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">7s</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/11/10s.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">10s</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Awalai Hari Dengan Shalat Dhuha</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/10/11/awalai-hari-dengan-shalat-dhuha/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/10/11/awalai-hari-dengan-shalat-dhuha/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Oct 2009 04:14:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak Berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun pengetahuan belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam beribadah. Hal ini bisa jadi karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya, tidak tahu segenap keutamaannya ( fadilah ) yang tersembunyi didalamnya. Abu Hurairah r.a. meriwayatkan: “Kekasihku, Rasulullah SAW [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=68&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Sebagian kita sudah tak asing lagi dengan sholat sunnah yang satu ini. Namun pengetahuan belum menunjukkan sebuah perbuatan: sebuah pengamalan dalam beribadah. Hal ini bisa jadi karena kita malas, tak punya waktu mengerjakannya, tidak tahu bagaimana cara melaksanakannya, tidak tahu segenap keutamaannya ( fadilah ) yang tersembunyi didalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-68"></span>Abu Hurairah r.a.  meriwayatkan: <em>“Kekasihku, Rasulullah SAW berwasiat kepadaku mengenai tiga hal  : <strong>agar aku berpuasa sebanyak tga hari pada setiap bulan</strong>, <strong>melakukan sholat dhuha  dua raka’at dan melakukan sholat witir sebelum tidur</strong>.” (H.R. <strong>Bukhari &amp;  Muslim</strong>).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Di hadits yang lain dikatakan bahwa Mu’azah al Adawiyah  bertanya kepada Aisyah binti Abu Bakar r.a : <em>“apakah Rasulullah SAW,  melakukan sholat dhuha?” Aisyah menjawab,” Ya, Rasulullah SAW melakukannya  sebanyak <strong>empat raka’at</strong> atau <strong>menambahnya</strong> sesuai dengan kehendak Allah SWT.” (H.R.  Muslim, an-Nasa’i, at-Tirmizi, dan Ibnu Majah).</em> Demikianlah hadits hadits  tersebut meneguhkan ihwal kesunnahan sholat dhuha.</p>
<p style="text-align:justify;"><span id="more-1592"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">Status sunnah sholat dhuha di atas tentu saja tidak berangkat dari ruang kosong. Berdasarkan tinjauan agama, paling tidak beragam keutamaanya (fadilah) yang bisa ditarik:</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Pertama:</strong> sholat dhuha merupakan<strong> ekspresi terima kasih</strong> kita kepada Allah SWT, atas nikmat sehat bugarnya setiap sendi tubuh kita. menurut Rasulullah SAW, setiap sendi ditubuh kita berjumlah 360 sendi yang setiap harinya harus kita beri sedekah sebagai makanannya. Dan kata Nabi SAW, sholat dhuha adalah makanan sendi-sendi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>“Pada setiap manusia diciptakan 360 persendian dan seharusnya orang yang bersangkutan (pemilik sendi) bersedekah untuk setiap sendinya.” Lalu, para sahabat bertanya: “Ya Rasulullah SAW, siapa yang sanggup melakukannya?’ Rasulullah SAW menjelaskan:” Membersihkan kotoran yang ada di masjid atau menyingkirkan sesuatu (yang dapat mencelakakan orang) dari jalan raya, apabila ia tidak mampu maka sholat dhuha dua raka’at, dapat menggantikannya<strong>” (H.R. Ahmad bin Hanbal dan Abu  Daud)</strong></em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Kedua,</strong> sholat dhuha merupakan wahana <strong>pengharapan kita  akan rahmat dan nikmat Allah</strong> sepanjang hari yang akan dilalui, entah itu nikmat  fisik maupun materi. Rasulullah SAW bersabda, <em>“Allah berfirman, “Wahai anak Adam, jangan sekali kali engkau malas melakukan sholat empat raka’at pada pagi hari, yaitu sholat dhuha, <strong>niscaya nanti akan Kucukupi kebutuhanmu hingga sore  harinya</strong>.” (H.R. al-Hakim dan at-Tabrani).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Lebih dari itu, momen  sholat dhuha merupakan saat dimana kita mengisi kembali <strong>semangat hidup baru</strong>. Kita berharap semoga hari yang akan kita lalui menjadi hari yang lebih baik dari hari kemarin. Disinilah, ruang kita menanam optimisme hidup. Bahwa <strong>kita tidak  sendiri menjalani hidup</strong>. Ada Sang Maha Rahman yang senantiasa akan menemani kita  dalam menjalani hidup sehari-hari.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Ketiga,</strong> sholat dhuha sebagai  <strong>pelindung kita untuk menangkal siksa api neraka di Hari Pembalasan </strong>(Kiamat) nanti. Hal ini ditegaskan Nabi SAW dalam haditsnya, “Barangsiapa melakukan sholat fajar, kemudian ia tetap duduk ditempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan kemudian ia melaksanakan sholat dhuha sebanyak dua raka’at, niscaya Allah SWT, akan mengharamkan api neraka untuk menyentuh atau membakar tubuhnya,” (H.R. al-Baihaqi)</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Keempat,</strong> bagi orang yang  merutinkan shalat dhuha, niscaya Allah <strong>mengganjarnya dengan balasan surga</strong>.  Rasulullah SAW bersabda, <em>“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha (pintu dhuha) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil, “Di mana orang yang senantiasa megerjakan sholat dhuha? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” (H.R. at-Tabrani).</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bila menilik serangkaian fadilah di atas, cukup beralasan, bila Nabi SAW menghimbau umatnya untuk senantiasa membiasakan diri dengan sholat dhuha ini. Kendati demikian, untuk meraih fadilah tersebut, beberapa tata cara pelaksanaannya, kiranya perlu diperhatikan.</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Waktu Sholat Dhua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Kata dhuha yang mengiringi sholat sunnah ini berarti terbit atau naiknya matahari. Wajar bila sholat ini, kemudian, dilakukan pada pagi hari ketika matahari mulai menampakkan sinarnya. Namun, beberapa ulama fikh berbeda pendapat tentang ketentuan waktunya.</p>
<p style="text-align:justify;">Imam Nawawi di dalam kitab ar-Raudah mengatakan bahwa waktu sholat dhuha itu dimulai, sejak terbitnya matahari, yakni sekitar setinggi lembing (lebih kurang 18 derajat). Sementara Abdul Karim bin Muhammad ar-Rifai, seorang ahli fikih bermazhab Syafi’i berkomentar bahwa sholat itu lebih utama bila dikerjakan saat matahari lebih tinggi dari itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Ada sebuah hadits yang menentukan perihal dhuha di atas. Zaid bin Arqam meriwayatkan: ” Rasulullah SAW keluar menemui penduduk Quba di saat mereka melaksanakan sholat dhuha, lalu Rasulullah SAW, bersabda : <em>“Sholat dhuha dilakukan apabila anak anak unta telah merasa kepanasan (karena tersengat matahari)’. ( H.R. Muslim dan Ahmad bin Hanbal).</em></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>Rakaat Dhuha</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Sholat dhuha merupakan sholat yang tidak menyusahkan untuk dikerjakan. Sebab, pasalnya sholat dhuha itu menyesuaikan kemampuan dan kesempatan muslim yang hendak mengamalkannya. Poin ini tergambar dengan jelas pada bilangan raka’atnya. Mulai dari 2 raka’at, 4 raka’at, 8 raka’at hingga 12 raka’at. Masing masing raka’at memiliki sandaran hadits Rasulullah SAW, sebagaimana yang penulis singgung di atas.</p>
<p style="text-align:justify;">Sayid Sabiq, ahli fikih dari Mesir, menyimpulkan bahwa batas minimal sholat dhuha itu 2 raka’at sedangkan batas maksimalnya adalah delapan raka’at. Pada ketentuan minimal dapat ditemukan pada hadits riwayat Abu Hurairah. Sementara ketentuan maksimal dapat ditemukan pada hadits fi’li (perbuatan) yang diriwayatkan Aisyah,r.a, <em>“Rasulullah SAW, masuk kerumah saya lalu melakukan sholat dhuha  sebanyak delapan raka’at.” (H.R. Ibnu Hiban)</em></p>
<p style="text-align:justify;">Bahkan lebih dari itu, menurut ulama mazhab Hanafi jumlah maksimal raka’at sholat dhuha itu enam belas raka’at. Sedang Abu Ja’far Muhammad bin Jarir at-Tabari, pengarang kitab Tafsir Jami al-Bayan, sebagian ulama mazhab Syafi’i dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berpendapat bahwa tidak ada batas maksimal untuk jumlah raka’at sholat dhuha. Semuanya tergantung pada kemampuan dan kesanggupan orang yang ingin mengerjakannya. Wallahu’alam (bungakehidupan<strong>)</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=68&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/10/11/awalai-hari-dengan-shalat-dhuha/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MEMBANGUN TEOLOGI UKHUWAH*</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/16/membangun-teologi-ukhuwah/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/16/membangun-teologi-ukhuwah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 08:49:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Dalam kehidupan empirik, pluralitas dalam kehidupan (al-tanawwu’ fi al-hayat) manusia dalam berbagai hal/aspek adalah satu keniscayaan, dan nanpaknya pluralitas ini juga merupakan sunnatullah yang harus kita terima dengan sikap inklusif. Kita sudah melihat dalam kehidupan faktual bahwa suku, bahasa, ras, agama bahkan sampai pandangan ideologi yang ada di muka bumi ini sangat beragam. Dengan demikian [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=45&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_44" class="wp-caption alignleft" style="width: 90px"><img class="size-thumbnail wp-image-44" title="bapak" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/02/bapak.jpg?w=80&#038;h=82" alt="bapak" width="80" height="82" /><p class="wp-caption-text">Moh. Dawamudin</p></div>
<p style="text-align:justify;"><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--><!--  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0in; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} @page Section1 	{size:8.5in 11.0in; 	margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; 	mso-header-margin:.5in; 	mso-footer-margin:.5in; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:1411078624; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:-2028068454 1556122552 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l0:level1 	{mso-level-tab-stop:.75in; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:.75in; 	text-indent:-.25in;} ol 	{margin-bottom:0in;} ul 	{margin-bottom:0in;} --><!--[if gte mso 10]&gt; &lt;!   /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; 	mso-para-margin:0in; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} --> <!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Dalam kehidupan empirik, pluralitas dalam kehidupan (<em>al-tanawwu’ fi al-hayat</em>) manusia dalam berbagai hal/aspek adalah satu keniscayaan, dan nanpaknya pluralitas ini  juga merupakan <em>sunnatullah</em> yang harus kita terima dengan sikap <em>inklusif</em>. Kita sudah melihat dalam kehidupan faktual bahwa suku, bahasa, ras, agama bahkan sampai pandangan ideologi yang ada di muka bumi ini sangat beragam. Dengan demikian menolak pluralitas <span id="more-45"></span>dalam hehidupan manusia di alam jagat ini nampaknya sesuatu yang sangat mustahil. Bahkan dalam Islam sendiri- apabila kita melihat di dalam sejarah Islam- kita akan menemukan berbagai firqah, madzhab yang bermacam-macam dan banyak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> Atas fakta empiris pluiralitas itu, maka dalam konteks interaksi sosial sekarang ini, yang perlu dibangun adalah “teologi ukhuwwah” atau teologi kebersamaan trans-agama. Ini penting karena di Indonesia ini yang namanya agama sangat banyak jumlahnya. Persoalan kerukunan umat umat beragama selalu menarik untuk diwacanakan. Kemajemukan agama di Indonesia ini “memungkinkan” munculnya berbagai ketegangan yang tidak mustahil mengarah kepada “konflik” antaragama. Di era reformasi atau kira-kira mulai tahun 1997 akhir sampai sekarang, di Indonesia ini masih sering dijumpai kerusuhan dan radikalisasi massa yang menggunakan dan atau berdalih atas nama agama. Seringkali konflik, ketegangan dan pertentangan yang terjadi di masyarakat “menggered” aspek/ranah agama atau lembaga agama ke dalam pusaran konflik. Padahal, dalam banyak hal, kerusuhan dan konflik horisontal itu lebih banyak disulut oleh faktor non-agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> Landasan teoritis sekaligus teologis tentang ukhuwah dalam Islam itu sudah punya yaitu pada ayat terakhir surat <em>al-Kafirun </em>“<em>lakum dinukum waliyadin</em>” (bagimu agamamu dan bagiku agamaku). Makna dari ayat tersebut tentu adanya keharusan bersama untuk saling menjaga eksistensi masing-masing agama karena “mereka itu punya hak untuk menjalankan ajaran agamanya dan kita juga”. Dengan kata lain, umat Islam hendaknya bisa menjaga eksistensi agama dan tempat ibadah kita dan mereka non muslim. Di dalam sejarah perkembangan Islam pun kita jumpai adanya model masyarakat pluralis yaitu kehidupan bersama di Madinah. Pada saat itu komunitas yang hidup bersama terdiri dari aorang-orang Yahudi, Nasrani, Musyrik, Muslim Anshar, Muslim Muhajirin dan suku-suku yang lain. Mereka diikat untuk hidup bersama secara damai oleh “Piagama Madinah”. Mereka punya hak dan kewajiban yang sama sebagai “warga negara”. Nabi Muhammad Saw pernah bersabda yang artinya<em>, “barangsiapa yang membunuh non-muslim dzimmi, yang tidak dalam keadaan perang, sayalah lawannya di akhirat”</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Di beberapa negara yang masyoritas penduduknya beragama Islam seperti di Mesir, Libanon, Suriah hubungan antara Islam dan Kristen benar-benar sudah cair. Artinya hampir tidak ada konflik dan bentrokan antara Islam dan Kristen yang diakibatkan persoalan agama.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Tapi, di Indonesia ini hubungan trans-agama belum begitu cair betul- hal ini seperti yang disinyalir oleh Prof. Dr. KH. Saig Aqil Siraj bahwa “anehnya di Indonesia ini orang yang fanatik dan pidatonya keras itu dianggap keislaman dan keimanannya kuat sekali- sementara- orang yang bersiokap terbuka dianngap imannya kurang kuat dan islamnya tidak jelas. Padahal kalau kita menyimak sejarah Islam, di sana kita akan dapat menemukan pesan nabi Muhammad Saw kepada Usamah bin Zaid ketika mau berangkat perang ke Romawi, yaitu : janganlah engkau bunuh warga sipil, anak-anak, wanita, jangan engkau rusak tempat-tempat ibadah, orang-orang yang sedang beribadah di dalam Gereja dan bahkan dilarang untuk merusak tanaman. Dan apabila mereka sudah ada dalam tahanan, perlakukan dengan baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Dan masih soal teologi ukhuwah ini, kita perlu melihat sejarah Islam pada era Abbasiyah khususnya pada era pemerintahan Harun al_Rasyid. Pada era kepemimpinannya, yang dibangunkan tempat ibadah itu bukan saja umat Islam, tetapi  umat Kristiani dan umat Yahudi juga dibuatkan tempat ibadah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Kesimpulan sementara adalah bahwa kita, apapun agamanya, harus belajar memahami orang lain termasuk agama lain, “the others”. Mengapa demikian, karena di dalam agama itu paling tidak ada satu hal/aspek yang bisa membentuk model keberagamaan seseorang yaitu : pertama, ada sesuatu yang  sangat <em>built-in</em> di dalam agama yaitu “emosi”. Emosi itu kalau sudah menjadi emosional, akan menjadi bibit atau cikal bakal dari munculnya agresifitas yang mudah mengarah kepada tindakan kekerasan ( (<em>violence</em>). Kedua, aktifitas keagamaan bisa mengurangi tindak kekerasan, dan juga bisa menjadi daya dorong yang hebat untuk menimbilkan kekerasan. Ketiga, masyarakat beragama yang tidak agresif itu biasanya terkondisikan oleh model pendidikan (leraning system) yang ditawarkan oleh pimpinan agama, masyarakat, atau kelompok agama yang santun secara sosial. Sebaliknya masyarakat beragama yang agresif biasanya terbentuk oleh model pemahaman pemahaman keagamaan para elit pemimpinnya (guru, dosen, kyai, pastur, romo, pendeta dll) yang berubah tanpa sadar dan menjelma menjadi “ideologi” pembele kepentongan tertentu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Oleh karena itu, pimpinan elit agama termasuk di dalamnya : guru, dosen,orang tua, kyai, da’i, muballigh, pendeta, pastur, romo, biksu, pimpinan gerakan mahasiswa, pimpinan ormas, pimpinan politik yang berbasis agama itu menjadi <em>key-persons</em> ke mana layar akan berkembang. Berkembang ke arah konsensus dan kompromi yang mengarah kepada kesejukan dan perdamaian (<em>peace</em>), atau ke arah pertentangan, mutual distrust dan kekerasan. Dan itulah watak asli dari agama yang memang ambivalent (bisa sejuk, bisa beringas, bisa lunak, bisa keras, bisa damai dan juga bisa perang). Karena sifatnya yang mendua, maka mestinya para elit agama harus betul-betul ekstra hati-hati dan waspada. Tingkah laku, akhlak sosial politik, munamuni, fatwa-fatwa keagamaan yang dikeluarkan oleh pemimpin agama akan sangat membentuk perilaku (<em>behaviour</em>) agresif dan non-agresif dari umatnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> Dan salah satu upaya untuk menumbuhkan <em>mutual-trust</em> adalah dengan secara bersama mengadakan aksi sosial seperti penanaman “seribuh pohon kerukunan umat beragama” yang pada hari ini akan dilaksanakan bersama oleh berbagai komunitas agama yang ada di Kebumen. Kegiatan bersaa semacam ini perlu ditumbuhkembangkan dan ditambah frekuensinya. Di samping itu-kalau tidak keliru- al-qur’an sendiri menegaskan tentang keseimbangan alam raya (Qs. Al-Rahman : 7-9) Allah Swt menegaskan pentingnya menjaaga keseimbangan. Ketiga ayat keseimbangan tersebut disebut di sela-sela ayat-ayat yang berbicara tentang nikmat-nikmat Allah yang ada di daratan, lautan dan udara. Dan ini masih diselingi dengan pengulangan kalimat <em>fabiayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan</em> (maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan). Hal ini mencerminkan bahwa nikmat Allah yang ada daratan, lautan dan udara, baru bisa dinikmati kalau terjadi keseimbangan dalam ekosistem, dan kegiatan penanaman 1000 pohon ini adalah salah satu upaya untuk itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Dalam al-Qur’an juga banyak menyebut tentang pepohonan dan tetumbuhan serta fungsi-fungsinya, misalnya Qs. Yasin : 80 “Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu”- menerangkan salah satu fungsi tanaman/tumbuhan sebagai penyuplai oksigen. Di samping itu, tentang fungsi tanaman/tumbuhan sebagai peresap air dapat dibaca pada Qs. Al-Mu’minun : 18 “Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran, lalu Kami jadikan air itu menetap di bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya”. <em>Wallahu a’lam bi al-shawab.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:.5in;line-height:150%;"><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Referensi :</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">1.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Al-Qur’an dan Terjemahnya</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">2.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Mastuki (ed), <em>Kiai Menggugat</em>, Jakarta : Pustaka Ciganjur, 1999</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">3.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Abdurrahman Mas’ud Prof. PhD, <em>Menuju Paradigma Islam Humanis</em>, Yogyakarta : Gama Media, 2003</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.75in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">4.<span style="font-family:&amp;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span><!--[endif]--><span style="font-size:11pt;line-height:150%;font-family:Arial;" lang="IN">Amin Abdullah Prof. Dr, <em>Pendidikan Agama Era Multi Kultural Multi Religius</em>, Jakarta : PSAP, 2005 </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/45/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/45/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=45&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/16/membangun-teologi-ukhuwah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/02/bapak.jpg?w=80" medium="image">
			<media:title type="html">bapak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tulisan Sebelumnya</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/14/34/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/14/34/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 10:24:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[inyong banget]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=34&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_33" class="wp-caption aligncenter" style="width: 310px"><img class="size-medium wp-image-33" title="dsc03324" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/02/dsc03324.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Konco-koncoku neng mejid" width="300" height="225" /><p class="wp-caption-text">my pren</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/34/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/34/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=34&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/02/14/34/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/02/dsc03324.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">dsc03324</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title></title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/16/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/16/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:54:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/16/</guid>
		<description><![CDATA[KODE ETIK PENDIDIK MENURUT IMAM NAWAWI AL-JAWI AL-BANTANI (Dalam Kitab Bidayatul Hidayah) Menerima segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah. Pengasih dan penyayang. Mengakhiri dan menghilangkan sikap angkuh terhadap sesama. Menghilangkan aktifitas yang tidak berguna/sia-sia. Lemah lembut terhadap peserta didik yang IQ-nya rendah dan memaksimalkannya. Menghilangkan marah dalam menghadapi problem [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=16&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><img class="aligncenter size-medium wp-image-28" title="SISWA" src="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/01/mylife.jpg?w=300&#038;h=225" alt="SISWA" width="300" height="225" /></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="IN">KODE ETIK PENDIDIK </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="IN">MENURUT IMAM NAWAWI AL-JAWI AL-BANTANI</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center"><strong><span style="font-size:13pt;" lang="IN"><em>(Dalam Kitab Bidayatul Hidayah)</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="IN"> </span></strong></p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menerima      segala problem peserta didik dengan hati dan sikap yang terbuka dan tabah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Pengasih      dan penyayang.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Mengakhiri      dan menghilangkan sikap angkuh terhadap sesama.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menghilangkan      aktifitas yang tidak berguna/sia-sia.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Lemah      lembut terhadap peserta didik yang IQ-nya rendah dan memaksimalkannya.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menghilangkan      marah dalam menghadapi problem peserta didik.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Hendaknya      tidak berpenampilan menakutkan terhadap peserta didik.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menghormati      dan menghargai semua pertanyaan peserta didik.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Mengontrol      dan mencegah peserta didik mempelajari ilmu yang menyimpang dan atau      melakukan perbuatan yang melanggar syar’i.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menanamkan      sifat ikhlas pada peserta didik serta terus menerus memantau perilaku      peserta didik dalam hal taqarrub kepada Allah.</span></li>
<li class="MsoNormal"><span lang="IN">Menjaga      kehormatan dan kewibawaan dalam bertindak.</span></li>
</ol>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=16&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/16/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://karanggedang.files.wordpress.com/2009/01/mylife.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">SISWA</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FILSAFAT PENDIDIKAN</title>
		<link>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/filsafat-pendidikan/</link>
		<comments>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/filsafat-pendidikan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Jan 2009 13:27:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bagimu Ilmu</dc:creator>
				<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://karanggedang.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM A. Pendahuluan Pembahasan tantang tujuan pendidikan secara mendasar merupakan bidang kajian filsafat, khususnya filsafat tentang hakikat manusia dan kedudukannya di tengah dunianya dengan segenap harapan dan kebutuhannya, baik yang menyangkut harapan duniawi maupun ukhrawi. Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan. Hal itu disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya. Pertama, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=9&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="IN">HAKIKAT DAN TUJUAN PENDIDIKAN ISLAM</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;line-height:150%;" align="center"><strong><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="IN"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;" align="center">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>A.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Pendahuluan</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">Pembahasan tantang tujuan pendidikan secara mendasar merupakan bidang kajian filsafat, khususnya filsafat tentang hakikat manusia dan kedudukannya di tengah dunianya dengan segenap harapan dan kebutuhannya, baik yang menyangkut harapan duniawi maupun ukhrawi.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">Tujuan pendidikan merupakan masalah sentral dalam proses pendidikan. Hal itu disebabkan oleh fungsi-fungsi yang dipikulnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em>Pertama</em>, tujuan pendidikan mengarahkan perbuatan mendidik. Fungsi ini menunjukan pentingnya perumusan dan pembatasan tujuan pendidikan secara jelas. Tanpa tujuan yang jelas, proses pendidikan akan berjalan tidak efektif dan tidak efisien, bahkan tidak menentu dan salah dalam menggunakan metode sehingga tidak mencapai manfaat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em><span id="more-9"></span>Kedua</em>, tujuan pendidikan mengakhiri usaha pendidikan. Apabila tujuannya telah tercapai, maka berakhir pula usaha tersebut. Usaha yang terhenti sebelum tujuannya tercapai belum dapat disebut berakhir, tetapi hanya mengalami kegagalan yang antara lain disebabkan oleh tidak jelasnya rumusan tujuan pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em>Ketiga</em>, tujuan pendidikan di satu sisi membatasi lingkup suatu usaha pendidikan, tetapi di sisi lain mempengaruhi dinamikanya. Hal ini disebabkan pendidikan merupakan usaha berproses yang di dalamnya usaha-usaha pokok dan usaha usaha-usaha parsial saling terkait. Tiap-tiap usaha memiliki tujuannya masing-masing. Usaha pokok memiliki tujuan yang lebih tinggi dan lebih umum, sedangkan usaha-usaha parsial memiliki tujuan yang lebih rendah dan lebih spesifik.<a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[1]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em> Keempat, </em>tujuan pendidikan memberi semangat dan dorongan utuk melaksanakan pendidikan. Hal ini berlaku juga pada setiap perbuatan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>B.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Pengertian Pendidikan Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Di dalam masyarakat Islam sekurang-kurangnya terdapat tiga istilah yang digunakan untuk menandai konsep pendidikan, yaitu <em>al-Tarbiyah</em> ( <strong>التربية</strong> ), <em>al-Ta’lim </em>( <strong>التعليم</strong><strong> </strong>), dan <em>al-Ta’dib</em> ( <strong>التاءديب</strong> ) dari ketiga istilah tersebut term yang populer digunakan dalam praktek pendidikan Islam ialah term <em>al-Tarbiyah</em> sedangkan term <em>al-Ta’lim</em> dan <em>al-Ta’dib</em> jarang sekali digunakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Kendatipun demikian, dalam hal-hal tertentu, ketiga terma tersebut memiliki kesamaan makna. Namun secara esensial, setiap term memiliki perbedaan , baik secara tekstual maupun kontekstual. Untuk itu perlu kami uraikan ketiga term tersebut dengan beberapa argumentasi tersendiri dari beberapa pendapat para ahli pendidikan Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->a)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Istilah <em>al-Tarbiyah (education)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Penggunaan istilah <em>al-Tarbiyah</em> berasal dari kata <em>rabb</em>. Walaupun kata ini memiliki banyak arti, akan tetapi pengertian dasarnya menunjukan makna tumbuh, berkembang, memlihara, merawat, mengatur, dan menjaga kelestarian atau eksistensinya.<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[2]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Dalam penjelasan lain, kata al-tarbiyah berakar pada tiga kata. <strong><em>Pertama</em></strong>, kata <em>rabâ- yârbu</em> ( <strong>ربا, يربو</strong> ) yang berarti bertambah dan tumbuh. <strong><em>Kedua</em></strong>, kata <em>rabiya &#8211; yarbâ </em>( <strong>ربي, يربى</strong> ) yang berarti tumbuh dan berkembang atau bertambah besar. <strong><em>Ketiga</em></strong>, kata <em>rabba &#8211; yarubbu </em>( <strong>رب, يرب</strong><strong> </strong>) yang berarti memperbaiki, menguasai, memimpin, menjaga, dan memlihara.<a name="_ftnref3" href="#_ftn3"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[3]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Kata rabb sebagimana terdapat dalam Q.S. Al Fatihah/1:2 <em>(alhamdu li Allahi rabb al-‘âlamin)</em> mempunyai kandungan makna yang berkonotasi dengan istilah al-Tarbiyah. Sebab kata <em>rabb</em> (Tuhan) dan <em>murabbi</em> (pendidik) berasal dari akar kata yang sama. Berdasarkan hal ini, maka Allah adalah Pendidik Yang maha Agung bagi seluruh alam semesta.<a name="_ftnref4" href="#_ftn4"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[4]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Uraian di atas secara filosofis mengisyaratkan bahwa proses pendidikan Islam adalah bersumber pada pendidikan yang diberikan Allah sebagai “Pendidik” seluruh ciptaan-Nya, termasuk, manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Kata al-Rabb, juga berasal dari kata Tarbiyah dan berarti mengantarkan sesuatu kepada kesempurnaannya secara bertahap atau membuat sesuatu menjadi sempurna secara berangsur-angsur.<a name="_ftnref5" href="#_ftn5"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[5]</span></span><!--[endif]--></span></a> Firman Allah yang menggunakan istilah ini adalah seperti pada Q.S. Al-Isra’/17:24 yang artinya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:.25in;text-align:justify;text-indent:.9pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">واخفض لهما جناح الذ ل من الرحمة وقل رب ارحمهما كما ربيني صغيرا</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:.25in;text-align:justify;text-indent:.9pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">(الاسرأ: 24)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">“ Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: <em>“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;"><em> </em>‘Abdurrahmân al-Nahlâwi seorang pengguna istilah <em>al-tarbiyah</em>, berpendapat bahwa pendidikan berarti:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->memelihara fitrah anak</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->menumbuhkan seluruh bakat dan kesiapannya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->mengarahkan fitrah dan seluruh bakatnya agar menjadi baik dan sempurna, serta</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->bertahap dalam prosesnya</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><em>b)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></em><!--[endif]-->Istilah <em>al-Ta’lim (Teaching)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Salah satu ulama yang menggunakan term ini adalah <em>Abdul Fattah Jalal</em> didasarkan atas firman Allah swt.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;margin:0 .25in .0001pt;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">كما ارسلنا فيكم رسولا منكم يتلو عليكم ا يا تنا ويزكيكم ويعلمكم الكتاب والحكمة ويعلمكم ما لم تكو نوا تعلمون (البقرة</span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" dir="ltr" lang="AR-SA"> </span><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">: 152)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 .25in .0001pt;">Artinya:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;margin:0 .9pt .0001pt .25in;"><em>“Sebagaimana kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu al-Kitab dan al-Hikmah serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;margin:0 .9pt .0001pt .25in;">Kata <strong>ويعلمكم الكتاب والحكمة</strong> menjelaskan aktivitas Rasulullah saw. Mengajarkan tilawat al-Qur’an kepada kaum muslimin. Yang dilakukan Rasulullah saw. tersebut bukan hanya sekedar membuat umat Islam bisa membaca, melainkan membawa kaum muslimin kepada nilai pendidikan <em>tazkiah an-nafs </em>(pensucian diri) dari segala kotoran sehingga memungkinkan menerima <em>hikmah</em> serta mempelajari segala yang bermanfaat untuk diketahui.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Jadi al-Ta’lim adalah proses pembelajaran secara terus menerus sejak manusia lahir melalui pengembangan fungsi-fungsi pendengaran, penglihatan dan hati. Proses ta’lim tidak hanya berhenti pada pencapaian pengetahuan dalam wilayah (domain) kognisi, namun terus menjangkau wilayah psikomotor dan afeksi. Menurut Rasyid Ridha <em>al-ta’lim</em> adalah sebagai proses transmisi berbagai ilmu pengetahun pada jiwa individu tanpa adanya batasan dan ketentuan tertentu<a name="_ftnref6" href="#_ftn6"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->c)<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Istilah <em>al-Ta’dib (Behaviours)</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Menurut al-Attas, istilah ini yang paling tepat untuk menunjukan pendidikan Islam. Didasarkan atas hadits Nabi Muhammad saw.:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-right:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;direction:rtl;unicode-bidi:embed;" dir="rtl"><span style="font-size:14pt;line-height:150%;" lang="AR-SA">أ دبني ربي فا حسن تأديبي (رواه العسكرى عن علي)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">Artinya:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;"><em>“ Tuhanku telah mendidiku, maka Ia sempurnakan pendidikanku” (H.R. al-‘Askary dari ‘Ali r.a.).</em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Kata addaba dalam hadits di atas dimaknai al-Attas sebagai mendidik, selanjutnya ia mengemukakan bahwa hadits tersebut bisa dimaknai: “Tuhanku telah membuatku mengenali dan mengakui dengan adab yang dilakukan secara berangsur-angsur ditanamkan-Nya ke dalam diriku, tempat-tempat yang tepat bagi segela sesuatu di dalam penciptaan, sehingga hal itu membimbingku ke arah pengenalan dan pengakuan tempat-Nya yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadian, serta sebagai akibatnya Ia telah membuat pendidikanku yang paling baik.”<a name="_ftnref7" href="#_ftn7"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[7]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Berdasarkan batasan tersebut, maka <em>al-ta’dib </em>berarti<em> </em>pengenalan dan pengakuan yang secara berangsur-angsur ditanamkan ke dalam manusia (peserta didik) tentang tempat-tempat yang tepat dari segala sesuatu di dalam tatanan penciptaan. Dengan pendekatan ini akan berfungsi sebagai pembimbing ke arah pengenalan dan pengakuan tempat Tuhan yang tepat dalam tatanan wujud dan kepribadiannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term di atas, secara terminologi, para ahli pendidikan Islam telah mencoba memformulasi pengertian Pendidikan Islam, diantaranya:</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">al-Syaibaniy;      mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku      individu peserta didik pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam      sekitarnya. <a name="_ftnref8" href="#_ftn8"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[8]</span></span><!--[endif]--></span></a></li>
<li class="MsoNormal">Muhammad      Fadhil al-jamaly; mendifinisikan pendidikan Islam sebagai upaya      mengembangkan, mendorong serta mengajak peserta didik hidup lebih dinamis      dengan berdasarkan nilai-nilai yang tinggi dan kehidupan yang mulia.      Dengan proses tersebut, diharapkan akan terbentuk pribadi yang lebih      sempurna, baik yang berkaitan dengan potensi akal, perasaan, maupun      perbuatannya.<a name="_ftnref9" href="#_ftn9"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[9]</span></span><!--[endif]--></span></a></li>
<li class="MsoNormal">Ahmad D.      Marimba; mengemukakan bahwa pendidikan Islam adalah bimbingan atau      pimpinan secara sadar oleh pendidik terhadap perkembangan jasmani dan      rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadiannya yang utama<em> (insan      kamil).<a name="_ftnref10" href="#_ftn10"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[10]</span></strong></span><!--[endif]--></span></a></em></li>
<li class="MsoNormal">Ahmad      Tafsir; mendefinisikan pendidikan Islam sebagai bimbingan yang diberikan      oleh seseorang agar ia berkembang secara maksimal sesuai dengan ajaran      Islam.<a name="_ftnref11" href="#_ftn11"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[11]</span></span><!--[endif]--></span></a></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Dari batasan di atas, dapat disimpulan bahwa pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai ideologi Islam atau nilai-nilai ajaran Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>C.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong> Tugas dan Fungsi Pendidikan Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Pada hakikatnya, pendidikan Islam adalah suatu proses yang berlangsung secara kontinou dan berkesinambungan yaitu pendidikan manusia seutuhnya dan berlangsung sepanjang hayat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara  fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.<a name="_ftnref12" href="#_ftn12"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[12]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Telaah di atas, dapat difahami bahwa, tugas pendidikan Islam setidaknya dapat dilihat dari tiga pendekatan; Pendidikan Islam sebagai <em>pengembangan potensi</em> yaitu menemukan dan mengembangkan kemampuan dasar peserta didik sehingga dapat diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari<a name="_ftnref13" href="#_ftn13"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[13]</span></span><!--[endif]--></span></a> <em>, proses pewarisan budaya </em>yaitu sebagai alat transmisi unsur-unsur pokok budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga identitas umat tetap terpelihara dan terjamin dalam tantangan zaman<em>, serta interaksi antara potensi dan budaya </em>yaitu proses transaksi (memberi dan mengadopsi) antara manusia dan lingkungannya.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Bila dilihat secara operasional, fungsi pendidikan dapat dilihat dari dua bentuk, yaitu:</p>
<ol style="margin-top:0;" type="1">
<li class="MsoNormal">Alat untuk      memlihara, memperluas, dan menghubungkan tingkat-tingkat kebudayaan,      nilai-nilai tradisi dan sosial, serta ide-ide masyarakat dan nasional.</li>
<li class="MsoNormal">Alat untuk      mengadakan perubahan, inovsi, dan perkembangan.</li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>D.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Dasar dan Tujuan Pendidikan Islam</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Dasar terpenting dari pendidikan Islam adalah Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah (hadits). Menetapkan al-Qur’an dan hadis sebagai dasar Pendidikan Islam bukan hanya dipandang sebagai kebenaran yang didasarkan pada keimanan semata. Namun justeru karena kebenaran yang terdapat dalam kedua dasar tersebut dapat diterima oleh nalar manusia dan dapat dibuktikan dalam sejarah atau pengalaman kemanusiaan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Dalam pendidikan Islam, sunah Rasul mempunyai dua fungsi, yaitu: (1) menjelaskan sistem pendidikan Islam yang terdapat dalam al-Qur’an dan menjelaskan hal-hal yang tidak terdapat di dalamnya. (2) menyimpulkan metode pendidikan dari kehidupan Rasulullah bersama sahabat, perlakuannya terhadap anak-anak, dan pendidikan keimanan yang pernah dilakukannya.<a name="_ftnref14" href="#_ftn14"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[14]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Secara lebih luas, dasar pendidikan Islam menurt Sa’id Ismail Ali secara hierarki terdiri dari 6 macam, yaitu; <em>al-Qur’an, Sunnah, qaul al-shahabat, masalih al-mursalah, ‘urf, dan ijtihad.<a name="_ftnref15" href="#_ftn15"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[15]</span></strong></span><!--[endif]--></span></a></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Dalam merumuskan tujuan pendidikan Islam, paling tidak ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tujuan dan tugas manusia di muka bumi, baik secara vertikal dan horizontal</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Sifat-sifat dasar manusia</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Tuntutan masyarakat dan dinamika peradaban manusia</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:42pt;text-align:justify;text-indent:-24pt;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Dimensi-dimensi kehidupan ideal Islam, yaitu: (a) mengandung nilai yang berupaya meningkatkan kesejahteraan hidup manusia di muka bumi. (b) mengandung nilai yang mendorong manusia berusaha keras untuk meraih kehidupan yang baik. (c) Mengandung nilai yang dapat memadukan antara kepentingan kehidupan dunia dan akhirat.<a name="_ftnref16" href="#_ftn16"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[16]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;line-height:150%;">Berdasarkan rumusan di atas, para ahli pendidikan Islam merumuskan tujuan pendidikan Islam sebagai berikut:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Menurut <em>al-Syaibani</em>, tujuan tertinggi pendidikan Islam adalah mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat. Sementara tujuan akhir yang akan dicapai adalah mengembangkan fitrah peserta didik, baik ruh, pisik, kemauan dan akalnya secara dinamis, sehingga terbentuk pribadi yang utuh.<a name="_ftnref17" href="#_ftn17"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[17]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Muhammad <em>Athiyah al-Abrasy</em>, menyimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam terdiri atas 5 sasaran, yaitu: (1) membentuk akhlak mulia (2) mempersiapkan kehidupan dunia dan akhirat (3) persiapan untuk mencari rizki dan memelihara segi kemanfaatannya (4) menumbuhkan semangat ilmiah peserta didik (5) mempersiapkan tenaga profesional yang trampil.<a name="_ftnref18" href="#_ftn18"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:12pt;" lang="IN">[18]</span></span><!--[endif]--></span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">Kongres se-Dunia ke II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 di Islamabad, menyatakan bahwa:</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;"><em>Tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh seimbang yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang rasional; perasaan dan indera. Karena itu, pendidikan hendaknya mencakup pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik; aspek spiritual, intelektual, imajinsi, fisik, ilmiah, dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua aspek tersebut berkembang ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan terakhir pendidikan muslim terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia</em>.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.25in;text-align:justify;text-indent:24pt;line-height:150%;">
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>E.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Istilah pendidikan yang dipakai dalam konteks masyarakat Islam ada 3 yaitu: <em>al-Tarbiyah, al-Ta’dib dan al-Ta’lim</em>. Namun yang populer atau  sering digunakan adalah kata <em>al-Tarbiyah</em> namun hal ini masih merupakan masalah kontroversial diantara ulama muslim dalam menggunakan ke tiga term tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Dari beberapa pendapat ahli pendidikan tentang pengertian Pendidikan Islam maka dapat disimpulkan bahwa Pendidikan Islam adalah suatu sistem yang memungkinkan seseorang (peserta didik) dapat mengarahkan kehidupannya sesuai ideologi Islam atau nilai-nilai ajaran Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->3.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Secara umum tugas pendidikan Islam adalah membimbing dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan peserta didik dari tahap ke tahap kehidupannya sampai mencapai titik kemampuan optimal. Sementara fungsinya adalah menyediakan fasilitas yang dapat memungkinkan tugas pendidikan berjalan dengan lancar.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->4.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Dasar terpenting pendidikan Islam adalah al-Qur’an dan sunnah Rasul.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->5.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Dari rumusan-rumusan yang telah dikemukakan oleh beberapa ahli pendidikan Islam dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk <em>Insan Kamil</em> (muslim sempurna) yang diharapkan akan mampu memadukan fungsi iman, ilmu dan amal secara integral bagi terbinanya kehidupan yang harmonis baik dunia maupun akhirat.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-indent:-.5in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]--><strong>F.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></strong><!--[endif]--><strong>Kritik atau Pendapat </strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->1.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Seharusnya dalam membahas tujuan pendidikan Islam perlu disertai dengan pembahasan tujuan hidup manusia, karena tujuan hidup manusia merupakan sumber tujuan pendidikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left:.5in;text-align:justify;text-indent:-.25in;line-height:150%;"><!--[if !supportLists]-->2.<span style="font-family:&quot;font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span><!--[endif]-->Seperti pendapat al-Attas bahwa istilah <em>tarbiyah</em> pada intinya maknanya berlaku bagi binatang dan tumbuhan, namun mengapa istilah ini lebih sering digunakan dalam pendidikan Islam, padahal seperti kita ketahui bersama bahwa salah satu konsep dasar pendidikan Islam adalah <em>kemanusian</em>, artinya pendidikan merupakan sesuatu yang khas bagi manusia bukan untuk selainnya.</p>
<div><!--[if !supportFootnotes]--></p>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ahmad D. Marimba, <em>Pengantar Filsafat Pendidikan Islam</em>, (Bandung: Almaarif, 1980), h. 45-46</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ibn Abdullah Muhammad bin Ahmad al-Anshary al-Qurthubiy, <em>Tafsir al-Qurthuby,</em> juz I, (Kairo: Dar al-Sya’biy, tt), h. 120</p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn3" href="#_ftnref3"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[3]</span></span><!--[endif]--></span></a> Abdurrahman An-Nahlawi, <em>Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam, </em>(Bandung: CV Diponegoro. 1992), h. 31</p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn4" href="#_ftnref4"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[4]</span></span><!--[endif]--></span></a> Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, <em>Falsafah Pendidikan Islam, </em>(Jakarta: Bulan Bintang, 1979), h. 41</p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn5" href="#_ftnref5"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[5]</span></span><!--[endif]--></span></a> Kata al-Rabb adalah bentuk asal <em>(mashdar)</em> yang dipinjam <em>(musta’âr) </em>untuk bentuk pelaku <em>(fa’il)</em> dan hanya digunakan bagi Allah swt. Lihat <em>al-Râghib al-Isfahâni, Mu’jam al-Mufradât Alfâzh al-Qur’ân, </em>(Bairut: Dâr al-Fikr, tth.), h. 189</p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn6" href="#_ftnref6"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[6]</span></span><!--[endif]--></span></a> Muhammad Rasyid Ridha, <em>Tafsir al-Qur’an al-Hakim; Tafsir al-Manar, </em>(Juz VII, (Beirut: dar al-Fikr, tt.), h. 41</p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn7" href="#_ftnref7"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[7]</span></span><!--[endif]--></span></a> Muhammad Naquib al-Attas, <em>Konsep Pendidikan, </em>h. 63-4</p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn8" href="#_ftnref8"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[8]</span></span><!--[endif]--></span></a> Omar Mohammad Al-Thoumy Al-Syaibany, <em>Falsafah Pendidikan Islam, </em>h. 399</p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn9" href="#_ftnref9"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[9]</span></span><!--[endif]--></span></a> Muhammad Fadhil al-Jamaly, <em>Nahwa Tarbiyat Mukminat, </em>(al-Syirkat al-Tunisiyat li al-tauzi’, 1977), h. 3</p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn10" href="#_ftnref10"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[10]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ahmad D. Marimba, <em>Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, </em>(Bandung: Al-Ma’arif, 1989), h. 19</p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn11" href="#_ftnref11"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[11]</span></span><!--[endif]--></span></a> Ahmad Tafsir, <em>Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, </em>(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), h. 32</p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn12" href="#_ftnref12"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[12]</span></span><!--[endif]--></span></a> M. Arifin, <em>Filsafat Pendidikan Islam, </em>(Jakarta: Bina Aksara, 1987), h. 33-4</p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn13" href="#_ftnref13"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[13]</span></span><!--[endif]--></span></a> Hasan Langgulung, <em>Pendidikan Islam Menghadapai Abad ke-21, </em>(Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1988), h. 57</p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn14" href="#_ftnref14"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[14]</span></span><!--[endif]--></span></a> Abdurrahman An-Nahlawi, <em>Prinsip-Prinsip dan Metode Pendidikan Silam, </em>h. 47</p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-align:justify;text-indent:42pt;"><a name="_ftn15" href="#_ftnref15"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[15]</span></span><!--[endif]--></span></a> Hasan Langgulung, <em>Manusia dan Pendidikan; Suatu Analisa Psikologi dan Pendidikan, </em>(Jakarta: Pustaka al-Husna, 1989), h. 35</p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn16" href="#_ftnref16"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[16]</span></span><!--[endif]--></span></a> M. Arifin, <em>Filsafat Pendidikan Islam</em></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn17" href="#_ftnref17"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[17]</span></span><!--[endif]--></span></a> Hasan Langgulung, <em>Manusia dan Pendidikan,</em> h. 67</p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoFootnoteText" style="text-indent:42pt;"><a name="_ftn18" href="#_ftnref18"><span class="MsoFootnoteReference"><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;">[18]</span></span><!--[endif]--></span></a> Mohammad Athiyah al-Abrasy, <em>Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam,</em> Terj. Bustami A. Gani dan Djohar Bahry, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), h. 1-4</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/karanggedang.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/karanggedang.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=karanggedang.wordpress.com&amp;blog=3195603&amp;post=9&amp;subd=karanggedang&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" /><div class="sharedaddy"></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://karanggedang.wordpress.com/2009/01/07/filsafat-pendidikan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/6bc8bf15d0b23b81e0517db33783227d?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F0.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96" medium="image">
			<media:title type="html">karanggedang</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
