Galau

Hiruk pikuk, teriakan, suara radio, pengumuman, gelak tawa, suara sepatu di depan sana, semua jadi satu. Suasana seperti ini sudah jadi hal yang biasa jika bel istirahat pertama berbunyi. Hati berasa tak enak, ada apa gerangan yang meliuk-liuk tak jelas dalam hatiku. Ah bukan, ini bukan karena tadi pagi pas berangkat kerja liat betis nan mulus. Tadi mahasiswa KKN mengembalikan buku pelajaran  padaku seraya bilang, kelasnya bagus anaknya pintar-pintar, ah masa sih aku harus cemburu jika ada guru yang bagus. Teringat pertanyaan teman sekantor yang menanyakan bagaimana perkembangan putrinya yang saya ajar, dan aku tidak bisa menjawab pasti karena aku belum mengenal jauh putrinya. Apa karena aku tidak bisa shalat shunat dhuha pagi ini, karena celana dalamku basah terkena sesuatu dari sesuatuku yang paling sesuatu karena melihat sesuatu yang membuatku sesuatu. Ah…bukan toh aku bisa lepas cd dan shalat tak ber cd, dah biasa waktu dulu di pesantren. Ohh apa sih.. yang membuatku begini, jangan-jangan karena perutku yang berasa lapar ini puasaku tanggal satu dzulhijjah, ga lah..aku tidak separah ini, aku orang Islam yang masih punya Iman masa, menahan lapar karena puasa pikiran jadi runyam, ga banget. Bayang-bayang pertanyaan pada diri sendiri membuat aku tidak konsentrasi dalam bekerja.

Kulirik jam, ku hitung-hitung kira-kira sudah pantas belum jika aku menghilang sekarang. Dari pagi aku sudah stand bye di muka layar biru ini, sudah kulalap habis tumpukan-tumpukan data siswa baru. Kini tinggal 1 tumpukan yang ditali plastic yang belum saya masukan ke super mesin ini. Do-re-mi aku ambil alat komunikasi kecilku aku melangkah agak cepat ke belakang sana dan menghilang tetutup tembok-tembok gedung hijau ini. Akhirnya sampai juga aku di ruang yang pada pintu masuk tertulis “kamar khusus pendamping”. Ada banyak kamar kosong, termasuk kosong bolong tanpa kasur, segera ku cari kamar kosong berkasur. Alhamdulillah ibarat ini hotel aku masih kebagian kamar kosong tak berpenghuni. Kubuka pintu dan kukunci dari dalam dan ahhh, kurebahkan berat tubuhku di kasur. Sambil menatap langit-langit dipan tingkat ini, aku ingat kembali kejadian-kejadian yang baru terlewat. Teeet…teeettt…. Aku tersadar dan lamat-lamat kudengar suara ketua DPR (penguasa dapur) sedang berbincang dengan entah siapa tidak jelas suara aku dengar, setelah itu hanya bunyi pintu kamar sebelah ditutup yang kudengar. Kutenangkan pandanganku aku bangun dari tidurku dan kuputuskan untuk kembali ke markasku di depan, sepertinya sudah cukup gencatan senjata hari ini.

Oooooo, kang Amid habis tidur ya? Tanya bapak ketua DPR

Memang sekali-kali kita butuh yang namanya istirahat, masa kerja terus..

Ujarnya sambil keluar dari gedung DPR.

Aku hanya ngangguk-ngangguk, dalam hati bertanya; bagaimana mukaku keliatan tidak ya kalau aku habis tidur, ah masa bodo nanti tinggal cuci muka saja beres, batinku.

Sampai di kantor aku langsung menghadap kepada layar biru sang super mesin, seakan aku bilang; lapor komandan !, sekarang saya sudah siap tempur kembali…! Sambil kupukul-pukul pojok layar ini, dengan harapan semoga layar biru ini kembali normal menjadi cerah dan terang. Uh.. dasar barang usang, mustinya kamu sudah di museumkan di belakang gudang sana, gerutuku’.